Kamis, 24 Oktober 2013

PKS PIYUNGAN: "DECEPTION OPERATION OF INTELLIGENCE FOR PKS" Part I

PKS PIYUNGAN: "DECEPTION OPERATION OF INTELLIGENCE FOR PKS" Part

Bagi PKS anbil hikmahnya.  Harus lebih ketat super ketat menjaga keamanan barisan jangan ceroboh dan gampang percaya meski dia ngaku ustadz dan fasih berbahasa arab sekalipun.
SELENGKAPNYA....

Minggu, 07 Agustus 2011

Mencari Pemimpin Tahan Lapar


Nafsu liar untuk mengejar kesenangan duniawi seakan tertahan dengan datangnya bulan suci Ramadhan.
Ramadhan datang bak oase di tengah panasnya padang pasir kehidupan yang panas . Namun kehidupan sangat menggairahkan bagi mereka yang memiliki nafsu yang tak merasa pernah terpuaskan.

Bagi mereka yang memiliki banyak "uang penasaran" dari hasil menjarah uang rakyat, sudah lama bersiap-siap dan selalu siap untuk ikutan lagi pilkada maupun pemilu. Meski kontes yang katanya perwujudan kedaulatan rakyat itu masih lama akan berlangsung. Dan hasilnya juga bisa diprediksi namun sang nafsu tak hendak urung tampil. Masa bodoh dengan kulit wajah yang keriput termakan usia. Asalkan masih pandai berkoar-koar menebar janji manis penuh pesona, berpantang surut ke belakang. Maju terus !!

Aku adalah bagian dari rakyat jelata yang hanya mampu memandang penuh tanda tanya. Akan dibawa kemana nasib ratusan juta rakyat republik tercinta ini, oleh para petualang politik yang tak tau malu naik turun pentas pilkadfa atau pemilu. Kemaren kalah sapa tau esok lusa menang dan jadi pemimpin dengan segala fasilitasnya. Nafsu penasaran laksana kalah judi ingin coba dan coba lagi. Busyeet !

Nafsu bermula di perut manusia. Perut laksana tungku api di dapur. Ia memang di perlukan untuk sekedar dinamisasi kehidupan. Tapi bila nyala apinya terlalu besar akan berbahaya. Bahaya bagi si empunya perut juga bagi sesama insan.

Jika saja di jaman gelora kontes pilkada atau pemilu ada pemimpin yang sanggup menahan lapar. Mungkin nasib rakyatnya akan terjamin secara nyata. Bukan sekedar orasi pepesan kosong berjudul peduli rakyat sementara hari-harinya berpesta kekenyangan dengan sohib koleganya dari resto ke cafe penuh aroma kuliner uang tilepan.

Dari serambi surau di pojok gang di bawah gedung pencakar langit ibukota, kami melepas penat saat dahaga dan lapar yang merupakan menu keseharian para jelata, namun di bulan Ramadhan ini dirasakan pula oleh semua kalangan. Sambil menunggu saat terbenamnya sang surya di ufuk barat, ada asa yang tersisa, bilakah datangnya pemimpin yang perutnya sering menahan lapar dan dahaga demi cintanya pada sebuah pekerjaanya sebagai "Khadimul Ummah" atau pelayan rakyat.

Sebab bila pemimpin memiliki perut yang sering merasakan lapar dan kerongkongannya sering dahaga pula , maka ia akan peduli dengan derita rakyatnya. Makin aku merindukan kedatangannya makin bergelora rasa rinduku kepada sosok Rasul Muhammad saw. Ya Allah sholawat salam untuknya berserta keluarga dan sahabatnya. Amiin
SELENGKAPNYA....

Minggu, 24 Juli 2011

SELENGKAPNYA....

Majelis Akhlaqul Karimah : Dari Istiqlal Menebar Salam



Hari ini Ahad 24 July 2011 ribuan kaum muslimin dan muslimat menghadiri tarhib Ramadhan yang diselenggarakan oleh Majelis Akhlaqul Karimah (Makkah). Acara yang berlangsung di Masjid Istiqlal Jakarta ini menghadirkan sejumlah pembicara. Antara lain Ustadz DR Muslih Abdul Karim, Ust DR Emir Faisal Al Fath dan Ir Tri Wisaksana Msc yang mulai populer dengan sapaan Bang Sani.


Kehadiran Majelis Akhlaqul Karimah dalam blantika dakwah di ibukota makin hari makin menarik untuk dicermati di tengah makin banyaknya majelis dakwah serupa.

Sesungguhnya Jakarta adalah pintu gerbang Indonesia. Berbagai persoalan sosial terjadi di Ibu Kota yang belum lama merayakan hari jadinya ke 484.
Kehidupan di kota Jakarta memang sangat keras. Bahkan ada yang bilang, ibu tiri tak sekejam ibu kota. Meski begitu, kota Jakarta tetap mempesona bagi jutaan anak bangsa yang ingin "mengadu nasib". Ke Jakarta aku kan kembali walau apa yang kan terjadi (Koes Plus).

Berangkat dari berbagai persoalan yang dihadapi warga ibu kota, maka kehadiran majelis dakwah seperti Majelis Akhlaqul Karimah dengan dakwahnya yang menyejukkan sangat dinanti dan diperlukan sebagai penambah ketegaran dan ketabahan bagi warga muslim ibukota Jakarta.

Makin pudarnya Akhlaqul Karimah di kalangan elit bangsa, berupa perangai ketidak jujuran alias Korupsi, kiranya menginspirasi lahirnya nama majelis dakwah ini. Dan masyarakat ibukota menanti hadirnya sosok pemimpin Jakarta yang tidak saja memiliki kecerdasan intelektual tapi juga kecerdasan moral berupa Akhlaqul Karimah.

Melalui tulisan sederhana ini, mari kita sambut seruan Bang Sani selaku pembina Majelis Akhlaqul Karimah untuk menebar salam kasih sayang. Semoga tercipta suasana kehidupan yang sejuk di Jakarta tanpa kekerasan atau tawuran sesama warganya.

Dan melalui tulisan ini pula. kami pribadi menghaturkan Selamat Menunaikan Ibadah Shaum Ramadhan Moga Allah Swt tetap memberi kekuatan lahir bathin dalam perjuangan hidup di Jakarta. Amiiin





SELENGKAPNYA....

Sabtu, 11 Juni 2011

Dan Azanpun Tak Lagi Berkumandang


Wagio adalah sosok pemuda santri asal desa. Perjalanan hidup mengantarkan dirinya terdampar di Musholla sebuah kampus pendidikan.
Tiap waktu sholat tiba hatinya risau bila melihat di Musholla tempat tinggalnya sementara tidak terdengar seruan azan . Bukankah banyak anak-anak kampus yang memenuhi ruang Musholla dan selalu hebat berdiskusi serta pintar adu argumen dalil, ternyata tak satupun mau mengumandangkan seruan azan nan mulia. Begitulah guratan isi hati Wagio santri dari desa.

Dapat mendengar keluh hati mas Wagio setelah mobilku seakan mengajak mampir di Musholla kampus ini, untuk sholat zhuhur.
Azan adalah pamggilan suci nan mulia yang ditujukan kepada setiap insan muslim yang beriman agar segera menunaikan Sholat wajib lima waktu.
Dalam sejarah kalimat-kalimat dalam azan merupakan hasil mimpi seorang sahabat yang lalu meceritakan peristiwa mimpinya kepada Rasulullah Muhammad saw. Dan beliau membenarkan dan menyetujui kalimat-kalimat tersebut sebagai kalimat azan hingga hari ini hingga akhir nanti.

Seorang muazin kecuali memiliki suara dan nafas yang panjang, juga harus memiliki mental yang kuat. Karena terbukti tidak setiap mereka yang bersuara bagus (munsyid misalnya) ternyata belum tentu sanggup mengumandangkan azan.

Dalam keluguan pribadinya ternyata mas Wagio santri muda dari desa, lebih sanggup mengumandangkan azan, meski ia tak pandai adu dalil argumen atau lihai berorasi.

Hari ini aku datang kembali ke Musholla kampus itu, ternyata saat waktu sholat tiba tak terdengar azan. Selidik punya selidik muazin yang bernama mas Wagio telah pindah tempat tinggal. Pekerjaannya yang hanya sebagai tukang ojeg sepeda tak menghalanginya untuk mengumandangkan azan. Dan kini azanpun tak lagi berkumandang.
SELENGKAPNYA....