Rabu, 26 Mei 2010

Bang Imad Dalam Kenangan











Ahad pagi yang cerah. Jam 09.00. Kaum muslimin/muslimat berdiri rame di depan pintu kaca toko buku Walisongo Kwitang senen, yang belum di buka. Mereka menanti dengan sabar bahkan dari pagi-pagi. Harapan nya agar dapat duduk di saf depan.

Ada yang datang dari tangerang, bogor, bekasi selain yang dari dalam kota Jakarta. Ada apa gerangan ??? Hari itu adalah hari ahad ke 3, acara pengajian ahad pagi yang menjadwalkan bang Imad atau Immaduddin Abdurrahim, sebagai pembicara. Akupun berdiri persis di depan kaca, wajahku menempel habis di kacanya. Sementara tubuhku serasa ditekan dari belakang oleh pengantri yang lain. Persis seperti antrian tiket kereta api. Aku tak mau peduli, saking ngeFans nya sama Bang Imad. Dan suasana semakin rame menjelang pintu dibuka oleh pegawai toko. Dan begitu di buka, berhamburanlah pengunjung ke dalam toko buku wali songo. Bukan mau beli buku tapi segera ke Masjid Al A'Raaf yang terdapat di belakang atas toko ini. Akupun segera bergegas wudhu dan mengambil posisi saf depan agar fokus.

Usai solat Tahiyyatul Masjid, jamaah menanti dengan sabar akan kedatangan Bang Imad. Dan mendekati jam 10 pagi beliau memasuki Masjid Al A'Raaf ini. Di dahului pembukaan oleh Mc, lalu tilawah qur'an, sambutan dari tuan rumah, Haji Mas Agung yang selalu hadir. Maka Bang Imad pun memulai kajiannya hingga kira2 jam 11. 25 dilanjutkan tanya jawab.

Di antara materi aqidah Tauhid yang menjadi tema kajiannya, ada yang hingga kini melekat diingatanku. Kaum muslimin yang telah bersyahadat adalah manusia yang paling merdeka, karna ia tidak terikat menjadi hamba apa pun kecuali hamba Allah swt. Demikian kutipan pemikiran beliau.

Di masa orba masih berkuasa, kebebasan bicara sangat dikekang. Tapi Bang Imad berani mengkritik kebijakan2 pemerintah. Misalnya tentang Pemilu, undang-undang bikinan manusia, menyindir Sudomo, Benny Murdani dsb. Maka bagi ummat yang merindukan 'perubahan' sekaligus yang ingin aspirasinya terwakili melalui sindiran atau kritikan dari Bang Imad, kehadiran beliau sangat dinanti-nanti dan menjadi buah bibir di kalangan aktivis dakwah. Masa itu belum ada HP atau pun internet.

Buku kuliah Tauhid hasil karya beliaupun laris manis. Dan saking ngeFans nya aku pada Bang Imad, di awal tahun 1989 beliau kami undang ceramah di sebuah Masjid dekat rumahku. Alhamdulillah beliau hadir. Meski sebelumnya kami ditentang habis oleh ketua Masjid yang 'ngeper' duluan, takut dipanggil pihak yang setia dengan rezim orba. Kecuali berbicara tentang Tauhid, Bang Imad berpandangan bahwa Islam adalah The Complete System/ sistem yang lengkap dan menyeluruh. Universalitas Islam.

Sosok Bang Imad tidak bisa dipisahkan dengan ICMI, Republika, Salman ITB, karena beliau yang memberikan inspirasi bagi kelahirannya. Walau beliau telah tiada tapi sosok nya yang istiqomah, tegar dan tawadhu akan selalu dikenang. Walaupun sudah tentu sebagai manusia biasa, tetap memiliki kekurangan. Moga anak-anak muda generasi muda Islam siap menerima tongkat estafeta dakwah dari para pendahulu kita seperti Bang Imad. Moga Allah swt, menempatkan arwahnya di golongan hamba-hamba Allah swt, yang Muttaqin. Amin

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya