Sabtu, 29 Mei 2010

Belajar Dari Musibah




Suasana di sebuah galangan kapal cukup meriah oleh pengunjung maupun musik yang mengiringi peresmian sebuah kapal pesiar. Siapa pun akan tergiur untuk bisa ikut pelayaran perdana kapal ini. Maklumlah kapal ini merupakan kapal termewah di zamannya. Segala fasilitas hiburan yang memanjakan para penumpang tersedia di dalamnya.
Dalam sambutan peresmian kapal ini, sang arsitek dengan sangat yakin sesumbar bahwa kapal ini dirancang sedemikin rupa untuk tidak bisa tenggelam. Maka para calon penumpang yang akan mengikuti pelayaran perdana kapal ini makin meluap-luaplah nafsu untuk mengejar kesenangan hidup layaknya akan masuk sorga yang mengapung di laut.
Dalam pelayaran perdana nya ternyata kapal ini tenggelam setelah menabrak gunung es. Itulah nasib kapal pesiar Titanic. Yang beberapa tahun yang lalu kisahnya telah dicoba diangkat ke layar lebar. Dan seperti dalam catatan sejarah, musibah kapal ini menelan ribuan orang yang tewas.

Masih ingat pula kenangan kita, tatkala pesawat ulang-alik Chalengger (baca: klenger) artinya si "penantang", hancur berkeping -keping tanpa bentuk. Padahal pesawat ini dilengkapi peralatan sangat canggih. Memiliki apa yang disebut 'Early Warning System'. Sistem peralatan dini, yang mampu menditeksi segala kerusakan yang terjadi secara dini. Namun suratan takdir berkata lain, pesawat ini luluh lantak meledak di udara. Tentu semua awaknya tewas hancur lebur.

Dari dua kisah di atas dapat kita ambil suatu hikmah, bahwa secanggih apapun hasil karya manusia tetap saja memiliki kelemahan. dan bukankah,manusia memang makhluk yang lemah. Ada suatu kekuatan yang Maha segalanya di balik alam semesta ini. Dia lah Allah swt, yang Maha mengetahui segalanya. Hanya sayangnya manusia sering lupa dan merasa serba cukup dengan apa yang dimilikinya. Seperti harta, ilmu, kesehatan dsb. Yang sejatinya itu hanyalah titipan dari sang Khaliq.

Sehebat apapun ilmu manusia hingga kapanpun tidak pernah akan tahu kpan terjadinya gempa bumi, kapan seorang wanita akan hamil, kapan seseorang akan menemui ajalnya, mengapa orang miskin , mengapa orang sakit, mengapa orang mati, dan kalo mati rohnya kemana ?
Itu sebabnya tidak ada fakultas rizki yang ada fakultas ekonomi. Tidak ada fakultas kesehatan yang ada fakultas kedokteran, tidak ada pula fakultas jodoh.

Maka yang terbaik kita harus selalu 'melibatkan Allah swt' dalam segala gerak usaha atau ikhtiar kita, kiranya usaha ikhtiar kita mendapat curahan rahmat petunjuk dari kasih sayangNya pada kita. Mulailah dengan Basmallah dan akhiri dengan hamdallah, di setiap usaha kita.

Moga bermanfaat,

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya