Senin, 31 Mei 2010

Permainan Gaple Yang Melenakan


Dalam perjalanan hidup ku pernah mengunjungi suatu kota yang berpenduduk mayoritas muslim. Bila kita hendak ke kota itu bisa menempuh waktu 4 malam melalui jalur laut. Arah ke timur Indonesia. 
Dari nama-nama warga kota itu, jelas sekali si empunya nama adalah seorang muslim. Dalam sejarah Islam di nusantara nama kota ini cukuplah terkenal karena memiliki kesultanan Islam yang jaya di masa silam. 
Ada yang membuat ku terheran-heran. Saat waktu asar tiba. Bersama tiupan angin laut yang berhembus kencang, alangkah tercengangnya hati ini. Melihat banyak warga berkerumun di serambi depan beberapa banyak rumah. Ngapain mereka ??? tanyaku dalam hati. Ku coba mendekat. Ternyata mereka sedang maen gaple. Tua muda, ibu-ibu, bapak-bapak tengah asyik memperhatikan kartu-kartu gaple yang tersusun di meja. Masya Allah gumamku. Sementara Masjid / Mushola kosong. Hanya satu dua orang yang sholat berjama'ah. Mereka lebih tertarik maen gaple berjamaah !? 
Konon istilah gaple diambil dari bahasa arab yaitu ghoflah artinya lalai. Orangnya disebut ghofilin. Memang tidak ada yang mengharamkan permainan ini sepanjang tidak dipake sarana judi dan juga sepanjang tidak melalaikan kewajiban-kewajiban sebagai muslim misalnya sholat. 
Masjid di kota ini ramenya waktu maghrib saja. Sedangkan 4 waktu yang lain sangatlah berkurang jama'ahnya. Sedih sekali melihat fenomena ini. Sebuah wilayah kesultanan Islam yang terkenal hingga manca negara ternyata banyak warganya kurang menghayati nilai-nilai Islam. Semogalah saat ini tidak seperti saat ku kesana di tahun 1992. Moga penghayatan dan pengamalan ajaran Islam hari ini lebih baik. Jangan sampe Islam hanya tinggal nama. 
Kembali soal gaple. Betapa asyiknya permainan ini. Apalagi bila yang kalah kena hukuman harus di jepit telinganya memakai jepitan baju yang dijemur. Bisa tak terasa waktu cepat berlalu. Biasa nya permainan ini dimaenkan tatkala ronda malam, atau sedang ada hajatan. Tak terkecuali di daerah tertentu dimainkan saat ada yang meninggal. 
Jatah waktu hidup manusia tidak ada yang tau kapan berakhirnya. Masih mendingan sepak bola. Mana kala sudah hampir habis waktu nya, oleh pengawas pertandingan diberi tau dari pinggir lapangan dengan istilah injury time. Tapi soal jatah umur tidak ada yang tau kapan kan berakhir. 
Sungguh ironis bila hidup manusia yang singkat dan pula tidak tau kapan kan berakhir habis begitu saja dengan bermain gaple atau yang sejenisnya misalnya maen game komputer. Sepanjang bisa mengatur waktu tentu tidak dipersoalkan. Yang repot bila sebaliknya. Bila kita hayati antara waktu dan kewajiban kita sesungguhnya kewajiban itu terlalu banyak ketimbang waktu yang tersedia. Begitu ulama besar Hasan Al Banna berpesan. Maka melalui tulisan sederhana ini aku mengajak kita semua agar hati-hati terhadap segala yang melenakan. Bukan hanya gaple bisa juga anak, harta kita misalnya mobil bagus yang terlalu disayang-sayang, akhirnya Sholat subuh telat gara-gara nyuci mobil itu. 
Moga bisa diambil hikmahnya. Amin

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya