Selasa, 18 Mei 2010

THE DAY AFTER


             Keyakinan akan datangnya hari kemudian merupakan sesuatu yang wajib diImani oleh mereka yang mengaku  Muslim yang Mukmin.  Karena hal tersebut merupakan bagian dari rukun iman yang enam. Dan pada setiap  sholat wajib membaca MALIKI  YAUMIDDIN.  ALLAH SWT sebagai 'penguasa tunggal'  hari kemudian.  Mestinya hal ini membawa dampak keyakinan yamg tercermin dalam Akhlaq keseharian kita.  Bahwa nanti nya masing-masing kita akan menghadapi 'audit amal, umur dan harta'   pada saat THE DAY AFTER   di  Mahkamah  yang Maha Agung Allah Swt.

               Kita boleh berperan sebagai apa saja di mana saja selama hidup di 'panggung sandiwara' dunia ini. Tapi nanti mesti kita pertanggung jawabkan secara pribadi tanpa seorangpun yang bisa membela  kecuali fakta yang jujur dan nyata dari amalan kita sendiri.  Masya Allah.

                Islam bahkan memandang keberadaan hidup di dunia yang sementara,   di samping untuk menanam amal kebajikan yang kelak akan dipetik di Akherat, juga sebagai Khalifah  yang bertugas mengelola bumi seisinya  demi kemakmurannya  selaras dengan  mematuhi hukum-hukum Allah swt.

                  Jadi sebagai seorang muslim sangat dianjurkan berperan. Bukan sebagai obyek tapi sebagai Subyek. Sesuai dengan kemampuan dari strata sosial yang dimiliki  tetap bertanggung jawab  mengindahkan  dan menjaga hukum2 Allah swt.  Sebagai Direktur atau Manager dia dapat berperan melalui tanda tangannya, sedang level yang paling bawah bisa berperan melalui tenaga yang dimiliki.    Walaupun hanya sekedar membuang  duri/paku  di jalanan hal itu merupakan suatu kebajikan.  

                   Namun sayangnya banyak mantan pejabat yang Muslim baru menyadari bahwa Islam memerlukan 'Power   justru setelah ia pensiun.   Justru ketika tanda tangannya tidak 'ampuh lagi padahal Islam sangat membutuhkan Power  guna kesejahteraan ummatnya yang masih banyak hidup menderita.

                   Kehidupan di kota besar sangatlah merangsang  seseorang untuk pergi pagi pulang malam banting keringat  peras tenaga,  kepala jadi kaki dan kaki pun jadi kepala.  Tidak jarang membuat  keimanan seorang muslim terguncang-guncang.   Ibadah sholat hanya bila sempat dan mau. Dari 5 waktu bisa jadi cuma 1 waktu Magrib saja.  Karna tidak enak dengan mertua.  Bila tidurpun mimpinya  kerja dan cari fulus.  Karna di kota besar tidak ada fulus mamfus.  Semua level begitu. Dari level Bos  hingga Office boy  sibuk oleh  dunia.   

                    Betapa pun kita sibuk mencari dunia, tetap saja dunia mesti dipandang sebagai "Sarana  bukan "Tujuan.  Dan jangan dibalik, kalo dibalik Dunia menjadi tujuan  maka yang terjadi menghalalkan segala cara berakibat kita berurusan dengan KPK.

                     Melalui tulisan singkat ini saya mengajak Anda dan diriku untuk bijaksana dalam menyikapi hidup di dunia ini.   Jangan sampai kita terpedaya dengan kemilau dunia tapi juga tidak menjadikan Dunia sebagai musuh.  Kata-kata bijak dari orang yang paling bijak, kiranya dapat kita jadikan pedoman.     "Bekerjalah untuk duniamu seakan engkau kan hidup selamanya  tapi bekerjalah untuk akheratmu seakan besok pagi kau mati."   (Al-Hadits)      Bila penyikapan dunia kita bijaksana tidak akan ada yang terkena Post Power Syndrom   sebaliknya  juga tidak akan ada orang yang Frustasi.   Wallahu 'alam

2 komentar:

Sahroni mengatakan...

Masya Allah......

seno mengatakan...

Semoga Kita Kagak Ketemu Dengan Masa Kehancuran alam.

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya