Rabu, 19 Mei 2010

Kala Magrib Tiba Di Atas Gaya Baru Malam


Sudah kuduga kereta ekonomi yang membawaku pulang ke Madiun, malam itu sangatlah penuh. Maklum besok hingga lusa adalah Longweek End. Dan juga pas tanggal muda. Suara obrolan berbalut asap rokok berpadu dengan suara pedagang asongan sangat menyibukkan telingaku. Apalagi diselingi tangisan anak yang merengek minta jajan , makin riuh suasana kereta malam ini. Tapi kunikmati saja makin lama makin asyik ditelinga. Bunyi roda kereta yang bergesek setia dengan relnya mengalun merdu di telingaku bagai mendengar alat musik Drum. Ku arah kan pandanganku ke luar jendela. Nampak Sang Surya Tenggelam sudah di ufuk barat. Menyisakan lembayung nan menguning sutra. Azan magrib ku dengar sayup sampai dihempas badan kereta yang melaju. Di lubuk hati ada yang membisik agar aku segera tayamum. Guna Sholat Magrib skaligus Isya jama' qoshor. Tapi ada pula yang coba menghadangku, dengan menghembuskan bisikan Malu yang Semu Dusta. Karna di hadapanku ada dua orang penumpang yang tidak bergegas untuk Sholat bahkan makin menambah frekwensi obrolannya. Sedang di samping kananku seorang kakek tua yang tidur mendengkur. Tarik-menarik antara Sholat dan Tidak terjadi di relung Iman dadaku. Usai bertayamum, ku permisi pada mereka yang ngobrol, ku bertahu aku hendak Sholat. Mereka pun diam senyap. Ya Allah, atas kekuatan dariMu jua aku mampu bertakbiratul ihram. Sungguh ujian Iman yang ku rasa. Mungkin bisa di hitung dengan jari sebelah tangan saja di antara ratusan penumpang kereta hanya seglintir yang Sholat Magrib apalagi Isya. Padahal tidak sedikit yang memakai peci hitam atau putih, juga berjilbab. Atau mungkinkah Magrib dan Isya digabung Subuh ? Wallahu "alam.

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya