Minggu, 16 Mei 2010

Kesedihan Seorang Istri


  Telah datang kepadaku seorang istri dan ibu yang memiliki anak tiga.  Ketiga anaknya telah berusia remaja. Rumah ibu ini tidak jauh dari rumahku. Kepadaku si ibu menceritakan kepedihan hatinya terhadap kelakuan suaminya.

    Sebut saja si Suami bernama Bapak Fulan. Berbeda dengan istrinya yang taat beragama, Bapak Fulan justru sebaliknya. Meski mengaku muslim,  untuk Sholat  setahun hanya dua kali. Idul Fitri dan idul Adha.  Bila Maghrib tiba, si Ibu dan ketiga anak Sholat sebaliknya si Bapak  malahan tidur kecapek an pulang kerja. Belum lagi kebiasaannya 'minum khamar'. 

     Di kantornya si Bapak rupanya bertermu  Mantan Pacar yang telah berSuami dan memiliki anak dua.  Entah sejak kapan mereka saling mencintai yang jelas  mereka berdua teman sekantor.

       Cinta lama tumbuh kembali.  Kata-kata yang pas untuk melukiskan hubungan keduanya. Celakanya masing-masing mereka telah memiliki keluarga. 

       Yang membuat kepiluan hati sang istri bertambah sehingga 'Curhat kepadaku, adalah Sang Swami dan Mantan pacarnya rumahnya 'bersebelahan.  Sehingga seSabar-sabarnya istri yang Sabar sering Sang Istri 'melabrak dan berantam mulut dengan tetangga sebelah.  Sebenarnya 'Skandal Asmara antara Bapak Fulan dan Istri tetangganya telah menjadi buah bibir di kantor. Dan banyak teman yang berusaha untuk 'meluruskan.  Tapi cinta sering 'buta' karna Nafsu.

         Dan Suami tetanga sebelah, nampaknya terlalu lemah di depan Istrinya yang 'genit. Sehingga  skandal asmara yang terlarang ini pun tetap  terjadi.

          Dalam kesedihan yang memuncak, istri nya Bapak Fulan hanya menjadikan Sabar dan Sholat sebagai tempatnya mengadu. Anak-anaknya pun turut bersedih tapi tetap tegar di bawah bimbingan ibunya. Suatu malam dalam Sholat Isya  istri Bapak Fulan menangis sedih dalam sujud terakhir.  Mengadu kepada Sang Khaliq  kesedihan hatinya. Saking sedih  tanpa sadar ia tertidur dalam sujud.  dalam tidurnya ia bermimpi Sholat di depan Ka'bah di Mekkah. Mungkin ini firasat yang jelas tidak lama setelah ini,   dia bersama ibunya berangkat Haji.   Saat pesawat Landing di King Abdul Azis Airport, sebagaimana ia bertutur padaku,  air mata  ibu ini sulit dibendung. Tidak bisa dilukiskan dengan kata apa yang ia rasakan.  Meng Haru Biru.

           Sebagai seorang istri ia sebenarnya rela bila harus di madu asalkan suaminya jangan sampai Zina apalagi berpacaran dengan tetangga sebelah yang juga telah berkeluarga.

            Ketika tulisan ini kubuat, si Ibu telah bercerai dengan Bapak Fulan suaminya. Yang telah menikah dengan seorang gadis pilihannya.  Rumah yang dulu ditempati telah terjual.  Si ibu dan ketiga anaknya menetap di pinggiran Jakarta. Hingga kini  Ibu ini tidak menikah lagi.   Dari raut wajahnya nampak tegar dan sabar meski mendung kesedihan tak dapat ia tutupi.

             Semoga menjadi hikmah bagi kita dalam mengarungi hidup berkeluarga yang kadang mendapatkan cobaan hawa nafsu sebagai akibat Cinta Lama Bersemi kembali. Karena yang akan menjadi korban adalah anak-anak yang masih polos nan lugu.  Wallahu "alam

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya