Senin, 24 Mei 2010

Manusia Bukan Robot


                    Suatu ketika aku pernah mendampingi seorang atasan berkunjung ke asrama yatim piatu. Untuk pertama kalinya aku masuk ke dalamnya. Tanpa segan kaki ini melangkah masuk. Rasa penasaran ingin tau apa yang ada.  Alangkah tersayat hati ini, ketika dipangil-pangil seorang anak yang seusia anak ku yang pertama.  "Om, om,"  begitu ia memanggilku.  Berdiri terkesima melihat dan mendengar apa yang ku alami. Segera teringat anak-anak di rumah. Lalu  kaki ini membawa  melihat-lihat ruangan demi ruangan  yang dipenuhi anak-anak. Ada yang sedang belajar, ada yang sedang bermain, ada yang menangis.  Air mata  ini  terasa tertahan-tahan.

                    Ku tak kuasa lama memandang apa yang ada di dalam asrama. Segera  keluar meredakan keharuan di dada.  Anak-anak yatim piatu ini, tidak selalu ditinggal wafat orang tuanya, tapi banyak pula  merupakan hasil hubungan 'gelap'.

                     Bagi mereka yang memiliki  hati yang 'waras', tentulah akan trenyuh bila melihat seperti yang ku lihat pagi itu.  Oleh sang Khaliq kita diberi qolbu atau perasaan. Bila qolbu yang kita miliki tidak kita asah yang terjadi qolbu itu menjadi tidak sensitif bila melihat sesuatu yang terjadi.  Ada kalanya seseorang yang fakir dia tidak mau berterus terang meminta, karna menjaga rasa malu.  Maka 'rasa sensitif' yang kita milikilah yang akan menangkap isyarat tersembunyi di balik wajahnya yang boleh jadi tertutupi rasa riangnya ketimbang rasa sedih.

                    Persaudaraan di sebuah Masjid misalnya, idealnya tidak  boleh  sama dengan persaudaraan di sebuah gerbong kereta api.  Tegur sapa, tanya tanyi, ketawa ketiwi,  hanyalah basa-basi belaka yang akan berakhir manakala kereta telah sampai tujuan. Bukan cerminan sensifitas qolbu yang peduli sesama.

                    Kehidupan metropolis yang terpola,   berangkat pagi pulang malam, sibuk mengejar dan dikejar 'biaya hidup dan gaya hidup'   acap kali  membuat renggangnya  tali kasih sayang antara suami, istri, anak juga orangtua.  Yang ada hanyalah suasana 'formil'  di kantor  yang terbawa ke dalam rumah.  Berakibat  makin jauhnya jarak antara orang tua dan anak bahkan bisa jadi suami dan istri. Semuanya karna tiadanya lagi  sensitifitas qolbu.

                   Seorang Raja atau Presiden yang ingin berkuasa 'absolut,  sangat pantang disanggah ucapannya oleh  rakyat.    Baginya rakyat harus selalu 'sendhiko dawuh'  terhadap segala titah. Tidak boleh bertanya, apalagi coba adu argumen. Penguasa seperti ini cendrung  semau gue, otoriter atau diktator.   Lupa bahwa rakyat yang ia pimpin dan juga dirinya memiliki qolbu.

                    Andaikata rakyat manusia bisa diprogram seperti robot,  maka tidak perlu ada undang-undang, tidak perlu ada hukum yang membatasi gerak-gerik manusia. Tidak ada yang digulinglkan dan menggulingkan, karena semua telah disetting.  Bila ini yang terjadi  maka hidup manusia 'robot'  tidak akan berbudaya dinamis dan cendrung monoton stagnan.

                   Sedang Sang khaliq,  masih memberi kebebasan memilih jalan yang hendak ditempuh manusia. Mau ke jalan Sorga atau jalan ke Neraka.  Sekali lagi manusia memang bukanlah robot yang tanpa qolbu atau jiwa nurani.  Maka biarlah ku nikmati lezatnya qolbu nuraniku bersama tangis canda anak-anak yatim.  Semoga kita  tidak termasuk manusia robot yang  tanpa sensitifitas qolbu hingga menelantarkan anak-anak   menjadi yatim piatu   sebagai akibat hubungan 'gelap.  Naudzubillah!

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya