Jumat, 28 Mei 2010

Muhammad Ali Sang Legenda Tinju


Suasana belajar mengajar di kelas kami tiba-tiba terhenti, tatkala Pak Kepala Sekolah masuk. Setelah berbisik sebentar dengan Pak guru wali kelas, ia mengumumkan, bahwa sekolah diliburkan para siswa boleh pulang cepat, dikarnakan pagi ini ada pertandingan tinju Muhammad Ali akan naik ring.
Kisah ini sekelumit kenangan saat aku masih kelas 2 SD tahun 1977 di desa Dolopo Madiun Jawa Timur. Demikian besar pengaruh Muhammad Ali sebagai sosok petinju, sehingga sekolah pun saat itu diliburkan. Padahal masa itu televisi masih sangat sedikit orang yang memilikinya. Dan kalo pun ada, adalah televisi hitam putih dengan ukuran kecil.

Dan benar saja, sesampainya aku di rumah, rumah tetangga ku yang memiliki pesawat Tv hitam putih, telah dipenuhi penonoton yang berjubel. Ada yang kebetulan sedang lewat di jalanpun berhenti atau menghentikan kendaraannya untuk nonton bareng. Dalam waktu singkat rumah itu, penuh orang berdesakan, tidak imbang dengan ukuran televisi yang kecil.

Muhammad Ali pun bermain dengan gaya nya yang khas. Bercelana putih, garis hitam dipinggir. Bagai penari lincah yang memainkan ke dua kakinya dengan lincah, seiring pukulan-pukulan jeb, huk, atau uppercut memang menawan dan tidak membikin bosan kita melihatnya.Juga tidak terlalu cepat selesai seperti Mike Tyson. Ali seakan mempertunjukkan seni bertinju yang memadukan kecepatan pukulan tangan dengan kakinya yang lincah menari.

Yang mesti kita teladani dari seorang Muhammad Ali adalah ia tegolong muslim yang taat dan juga tidak malu memperlihatkan identitas keIslamannya. Memakai nama Islam di tengah masyarakat yang asing bahkan membenci Islam seperti di Amerika, bukanlah persoalan yang mudah. Tapi justru ini dilakukan oleh seorang Muhammad Ali. Sorak sorai penonton riuh di dalam stadion yang memanggil-manggil namanya .....Ali.....Ali ......Ali....sungguh membikin kita hanyut dalam emosi dari kharismanya.

Banyak Masjid maupun sekolah Islam telah mendapat suntikan dana dari Muhammad Ali, tidak saja di Amerika tapi juga di luar Amerika.

Kalo saja para pejabat muslim mau meneladani Ali tentu akan semakin mengharumkan ummat Islam. Kenyataan nya berbeda di negeri yang mayoritas Islam seperti Indonesia, para pejabat muslim alih-alih mengharumkan nama Islam, fenomenanya banyak yang tersangkut praktek KKN yang sejatinya menjadi pengkhianat negara.

Di sisi lain, ketika para pejabat itu bila di tanya mengapa tidak memperjuangkan kepentingan ummat Islam, berdalih, bahwa meskipun ia muslim tapi kan ia seorang menteri, ia kan seorang gubernur, ia kan seorang bupati. Mestinya ia berprinsip, walopun ia seorang Presiden sekalipun atau menteri apapun, tapi ia tetaplah seorang muslim yang kan memperjuangkan Islam dan ummatnya melalui kekuatan 'tanda tangan' yang ia miliki.

Tentu tidak semua pejabat memiliki karakter seperti apa yang ku tulis di atas. Masih ada pribadi pejabat yang istiqomah memperjuangkan kepentingan Islam dan Ummatnya. Walo jumlahnya mungkin sedikit.

Akhirnya aku mengajak dirimu untuk memeperjuangkan Islam sesuai kemampuan yang kita miliki di segala level kehidupan. Karna kecintaan kita pada Islam harus terbukti dalam bentuk memperjuangkannya. Semogalah. Wallahu 'alam

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya