Kamis, 20 Mei 2010

Rasa Empati Yang Kian Langka.


Jam makan siang di sebuah perkantoran di kawasan Monas Jakarta. Tanpa sengaja aku yang hendak mengantarkan pesanan temanku, masuk ke ruang rapat di kantor itu. Mereka sedang santap siang. Ada sepuluhan orang yang lahap menyantap hidangannya. Mereka mengenalku demikian sebaliknya. Ketika tau aku masuk ruangan , mereka pun berbasa-basi tanya , "Kamu sudah makan, Ayo makan'. Ku jawab dengan tersipu malu, "Sudah-sudah gampang". Meski ku tau ini jawaban tidak jujur yang membohongi perutku yang merintih lapar. Aku pun segera bergegas keluar ruangan itu. Untuk duduk menunggu di luar ruangan. Sambil ku elus perut lapar ini, aku bergumam di hati, mestinya kalo mereka memang memiliki rasa empati, tinggal menyuruh Office Boy untuk membelikanku Nasi Bungkus karna aku tamu bagi mereka. Karna secara strukutural mereka adalah atasan-atasanku. Yang secara finansial bulanan jauh di atasku. Dalam termangu, tak ku sangka ada seseorang yang keluar menghampiri sambil membawakanku Nasi Kotak yang lebih. Alhamdulillah masih ada orang yang berhati empati di saat Nikmatnya Gule Rendang di kala jam Makan Siang yang terik. Orang yang tidak berbasa-basi, tapi menampilkan praktek nyata. (jawa: NYO-TO). Kiranya bisa diteladani orang yang memberi serbelum diminta. Meski jumlahnya 1 berbanding 1000.000 itupun kalo ada. Wallahu 'alam

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya