Sabtu, 15 Mei 2010

Istriku Tidak Tergiur


Ketika kasus Gayus sebagai mafia makelar pajak mencuat di media2, datang kepadaku seorang teman mantan pegawai pajak yang memilih pensiun muda. Dia bercerita padaku sebagai berikut : Sebagai seorang akuntan di Kantor Pajak, pekerjaan ku sering memeriksa ratusan perusahaan yang sudah dan belum membayar pajaknya pada negara. Sudah menjadi tekadku untuk menjauhi praktek2 ketidak jujuran pada negara. Ini harga mati bagiku ! Tekadku pula jangan sampe anak- istriku memasuk kan sesuatu yang haram dalam perutnya. Maka aku sangatlah hati-hati jika memberi uang belanja kepada Istriku ! Sikap komitmenku ini tentu membawa dampak di kantor. Ada yang senang tapi pasti ada pula sebaliknya. Teman seruanganku sebutlah namanya Mas Fulan, prilakunya kebalikan dengan prinsipku. Dia sangat doyan uang-uang 'UnderTable' yang panas. Rupanya dia tidak enak sama aku. Kalo dapat wang begituan tidak bagi-bagi padaku. Tapi kalo berbagi denganku dia takut aku bertanya Wang apa ? Dan darimana asalnya ? Akhirnya dia menemukan cara. Pada setiap mendapatkan wang 'begituan', dia pura-pura maen dan ngobrol ngalor-ngidul di rumahku katanya sih silaturrahim. Dan pada saat mau pulang dia memanggil anak ku yang masih Sd, lalu menitipkan amplop yang katanya 'Buat Jajan ya Naak'. Manis betul bahasanya gumamku yang membuatku tidak sadar sama sekali ada apa di balik ini. Hal ini terus dia lakukan berulang-ulang pada setiap dapat 'proyek. Akhirnya pada suatu hari aku dan Mas Fulan temanku terlibat pertengkaran seru di kantor, bagiku ini soal prinsip ! Persoalannya tentang sebuah perusahaan yang menunggak pajak, hingga negara dirugikan ratusan juta rupiah. Sesuai peraturan dan menurutku perusahaan itu mesti kena Pinalti. Karna telah melanggar aturan. Tapi bagi Mas Fulan temanku, hal ini bisa diselesaikan secara "damai atau Win-win solution atau CinCai CinCai sambil makan di Restoran enak dan mahal. Tidaak kataku tegas. Aku tidak biasa dan bisa makan Wang macam begitu. Dengan entengnya temanku Mas Fulan berkata sambil ngledek, "Kalo kamu nggak biasa makan Wang begituan lalu Wang yang sering saya kasih setiap saya maen kerumahmu memangnya Wang darimana ? Aku terdiam lemaaas sambil ber Istighfar. Dan tersadarkan bahwa Mas Fulan telah meracuni keluargaku. Aku langsung pulang cepat. Sampai rumah usai Sholat asar ku panggil istriku. Ku critakan semuanya, bahwa rupanya si Fulan telah menjebak Ayah. Dan meracuni keluarga kita. Tanpa ku duga aku mendengar jawaban istriku yang luar biasa membuatku meneteskan airmata, Istriku berkata," Jangan khawatir Mas, amplop dan isinya yang sering Fulan kasih ke kita, belum Ibu buka sama sekali dan masih Ibu simpan dan kumpulin. Ya Allah....Allahu Akbar. Masya Allah aku menangis haru. Ternyata istriku tidak tergiur untuk buru-buru membuka isi amplop-amplop itu. Esok hari semua amplop yang masih utuh itu aku masukkan tas kresek lalu ku kembalikan kepada Mas Fulan temanku yang doyan. Dan segera ku menghadap personalia untuk mengajukan pensiun muda. Dengan resiko yang ku hadapi. Biarlah miskin harta asal kan Kaya harga diri dan Iman. Tapi ku yakin rizki Allah swt maha luas. Aku bergabung dengan teman2ku memajukan usaha sebagai konsultan pajak. Alhamduliillah hari berganti aku hidup bahagia. Demikian sekelumit crita dari temanku moga bermanfaat. Makasih.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

SubhanAllaah

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya