Selasa, 01 Juni 2010

Andai aku Obama


              Melihat dan mendengar berita pembantaian semena-mena  oleh Israel,  membuatku gusar dan malu  pada negara-negara  sahabat.   Segera ku memanggil  mentri luar negeri untuk melakukan langkah nyata  guna menghukum Israel yang sudah keterlaluan.

              Apa yang kan kulakukan tentu akan mendapat reaksi negatif dari  para donatur negeri ku, yang   masih sangat diperlukan untuk membiayai proyek perang di Afghan dan Iraq.   Bahkan untuk terus menstabilkan ekonomi negeri ini dari krisis moneternya.

              Tapi apapun reaksi   dari para bankir-bankir atau konglomerat yang memiliki  hubungan 'keyakinan'   dengan Tel Aviv,   hati kecilku  membrontak.  Cukup sudah Israel untuk semaunya.

              Diskusi dengan menteri luar negeri cukup sengit.  Bagaimana memoles wajah politik negeri ku yang  sering mendengung-dengungkan  hak asasi  manusia harus dihormati.  Setelah kejadian penembakan brutal tentara Israel  betul-betul  aku 'kehilangan muka'    di depan  negara sahabat  yang berpenduduk muslim.

             Menteri luar negeriku seakan tidak mau tau dan mau malu  akan peristiwa jorok dan brutal ini.  Nyonya Clinton,   seakan masih punya kartu truf untuk merayu dan mendinginkan emosi negara-negara  muslim.  Berbicara dengan  Madam Clinton bagai berbicara dengan perdana menteri Israel, yang keras kepala sukar diajak berpikir realistis.

             Setelah hampir satu jam, berdiskusi  tiba   pada satu kesimpulan,  untuk rencana kunjungan   ke Indonesia  aku batalkan.  Sampai batas waktu yang belum ditentukan, karna  rasa malu yang mendalam.  Dan aku tak tau lagi  bagaimana ber 'akrobat kata'  agar muka ini tetap tegak di depan rakyat  dan   pemimpin negara muslim. 

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya