Sabtu, 05 Juni 2010

Kita Di 'Sorga" Dunia Saja ???

Tak terbayangkan oleh ku, perjalanan hidup ini telah mengantarkan kepada suatu pelayaran ke wilayah Indonesia Timur (Intim). KM Kerinci membawa ku ke wilayah waktu Indonesia Timur.

Rasa kantuk masih menggelayut di mata ini, tatkala azan subuh di atas kapal bergema. Usai sholat subuh di atas kapal, ku pergunakan untuk bertafakur, melihat laut yang tenang di pagi hari. Sementara mentari di ufuk timur mulai berani bersinar.

Cakrawala di alam raya begitu indahnya, pulau-pulau kecil seakan menyambut dengan nyiur melambai nya, makin memanjakan jiwa ini dengan pesona samudra raya. Siang ketemu malam. Hari-hari ku nikmati dengan lahapnya menyantap panorama pengalaman berlayar ini.

Yang ku rasa betapa Allah swt begitu Maha Agungnya. Kala magrib tiba mentari terlihat di ufuk barat perlahan tenggelam. Subhanallah gumamku. Yang langsung disambut azan magrib. Malam tiba gelap nya lautan terhiasi butiran jarang lampu kapal yang berpapasan lewat. Tapi bila kita menatap langit cerah di gelap

nya malam kau akan melihat bermilyar bintang gemintang yang menemani sepanjang pelayaran ini. Rembulan sabit tak mau kalah berparade mengawal malam.

Lautan Indonesia sangatlah kaya. Bukan saja ikan nya. Cumi atau karang mengkarang nya tapi juga memiliki potensi kandungan arus listrik. Sayang kita tak meiliki kemampuan mengolahmya. Dan memang bumi persada ini kaya laksana permata zamrud manikam.

Angin laut maupun angin gunung sering menidur lelapkan kita. Air terjun bak rizki yang subur mengalir deras. Sawah ladang yang bertingkat tingkat. Makin lengkap dengan bunyi seruling yang sayup mendayu bersama gemercik air pancuran membikin suasana hati tentram. Inilah alam anugrah ilahi. Tiada perang panjang. Tiada nestapa. Tiada pergolakan. Adem ayem. Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghoffur.

Tapi cukup pintar kah kita bersyukur ???

Alam spritualitas cukup kuat di persada ini. Berbagai ajaran sufi dan mistis mengakar bak pondasi kokoh. Para wali mendapat tempat 'mulia' di makamnya yang dikaromahkan. Aneka budaya leluhur menjadi warisan tahan banting. Hingga di zaman Lap Top ini tetap antik meski nyata klenik. Inilah realitanya.




Nasyid perjuangan asing aneh di mata jelata dan priyayi, memanggil-manggil Palestina nama yang tidak ada di kamus bahasa ibu mereka. Berorasi nyaring intifadhah Ahmad Yassin yang mereka tau surah Yaasiin di kala ada kematian. Bernyanyi lagu Al Aqsa yang mereka tau konsumsi Isra Mi'raj. Berpedas pedas kata caci Israel yang mereka tau mengumpat sembako bbm mahal. Kecintaan pada Parpol Islam yang mereka tau cinta 'fitri'.

Kau kan berkata padaku berlebihan, manakala aku berpikir bahwa rakyat Palestinalah yang nanti berhak masuk sorga duluan, atas segala kegetiran hidupnya. Atas segala pengorbanan nya hingga tulang punggungnya patah dalam melawan Israel. Sementara pinggang kita yang asyik joget pada setiap pesta pernikahan, masih merasa pantaskah masuk sorga ??? Karna toh kita sudah merasakan sorga di dunia ini ??? Semoga kita pandai bersyukur.

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya