Kamis, 03 Juni 2010

Moshe Dayan Dan Ariel Sharon



           Moshe Dayan !   kita tidak akan melupakan  sosok  panglima tentara Israel ini ??  Dia telah ber'prestasi'    bagi Israel  karna  dia yang memimpin  pasukan Israel dalam perang  yang 'memalukan'    bagi bangsa Arab,  yaitu  perang  6 hari  di awal bulan juni 1967.  Dalam perang singkat ini, tentara  Israel berperang  atas nama keyakinan  'yahudi'nya.   Sehingga  semangat tempur nya   berkobar-kobar.  Dan menang !

           Di sisi lain  tentara Arab  yang terdiri dari  Mesir, Syiria, Yordan,  yang berperang  dengan motivasi Arabisme   dan Sosialisme  dapat dirontok kan oleh  tentara  Israel  pimpinan Moshe Dayan   hanya dalam waktu  6 hari saja.

           5 juni 1967  adalah awal perang Arab-Israel yang berlangsung 6 hari.  Dan pada tanggal 7 juni  kota tua  nan suci  Yerussalem, telah berhasil  direbut pasukan Moshe Dayan.   Dengan gegap gempita  sorak sorai  pasukan Israel ini masuk ke wilayah Masjid Al Aqsha,  sambil  menghina  Islam dan Muhammad  saw.  

            Moshe Dayan   memasuk wilayah  Al Maghariba   serta wilayah  termbok  Al Buraq  yang kemudian  dijadikan 'tembok ratapan'. Letaknya  di sebelah barat  komplek Al-Aqsha.    Ketika memasuki wilayah  tembok Al Buraq ini,  Moshe Dayan dengan sombong  berkata, " Kita sudah mempersatukan  kota yang tersobek-sobek , ibukota Israel.   Kita sudah kembali ke tempat paling suci ini, untuk tidak akan berpisah dengannya".   Sambil tangan nya menyelipkan kertas  berisi doa  tulisan tangannya  ke celah-celah tembok ratapan.

          Semenjak itu tembok Al Buraq, serta wilayah disekitarnya  hingga saat ini  dalam kakuasaan tentara Yahudi Israel.  Dan asrama  pasukan Islam  dari Afrika utara yang dibangun sebagai  hadiah  dari   panglima Islam Sholahuddin Al Ayubi, dihancur leburkan tentara  Israel.

          Pada tahun  1948,  di masa awal negara Israel,  Moshe  Dayan memimpin batalyon ke 89.  Ketika itu   ia memerintahkan  semua penduduk di suatu desa Palestina,  untuk berkumpul dan berlindung di dalam Masjid.  Sambil  ia mencari siapa yang telah melemparkan granat yang menewaskan seorang tentara Israel.  Tapi  Moshe Dayan kalap,  semua orang yang berlindung di dalam Masjid itu, dibantai  habis.

         Dalam salah satu pertempuran  matanya terkena peluru, hingga harus  merelakan kehilangan mata satu.  Yang berkibat  ia berciri khas  sebagai jenderal Yahudi ber'mata satu'.

           Selain Moshe Dayan yang tidak kalah kejam dan bengis  kepada  rakyat Palestina adalah Ariel Sharon.  Kami tidak sanggup  melukiskan dengan kata  bagaimana kekejamannya.  Yang kami tau hingga kini  Ariel Sharon,  antara  hidup dan mati   di sebuah rumah sakit di Israel,  kiranya sebagai  balasan  dari Allah swt  atas  kezalimannya. Amin

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya