Minggu, 13 Juni 2010

PERLUNYA LAPANG DADA


           Sekali lagi dalam  sepak bola kita dapat  mengambil sebuah pelajaran di  antaranya  tentang  lapang dada. Sebab seorang pemain  sepak bola  harus menerima apapun keputusan wasit yang memimpin  pertandingan  sekalipun  tidak sesuai  dengan  logika berfikir  para pemain yang tim kesebelasannya merasa dirugikan.

            Memang pahit sekali  manakala  kita  menjadi korban  sebuah keputusan wasit yang  menurut kita keliru dalam memberi  hukuman.  Tapi  inilah realitanya, dan keputusan wasit tidak bisa dianulir. Sepahit apapun keputusan wasit mesti diterima dengan lapang dada.  Meski kalah,  biarlah sejarah  yang kan mencatat  bahwa kekalahan tim kita karna faktor wasit.  Dan tidak perlu  terlalu bersedih  karna banyak  juara tanpa piala.

            Sebuah  kesebelasan mungkin saja  tersingkir kalah. Tapi  kalah  secara terhormat. Misalnya melalui  'drama'  adu pinalti.  Atau kalah karna korban tendangan  pinalti  lawan  sebagai akibat hukuman wasit yang berlebihan.  Bisa juga tim kesebelasan  yang seharusnya pantas  juara karna  bermain bagus  tapi kurang beruntung, disebabkan  faktor 'LUCK'. Bisa juga  tim kesebelasan  harus gugur  disebabkan  dua tim  kesebelasan saling 'main mata'  untuk menjegal peluang  bermain di babak berikutnya  terhadap sebuah tim kesebelasan lain.

           Dalam realita kehidupanpun sering kita jumpai.  Seseorang yang seharusnya pantas menduduki  sebuah jabatan strategis tertentu,  tapi karna  tidak bisa  'cari muka,  maka  oleh atasannya tidak  ditunjuk menduduki jabatan itu.  Di sinilah perlunya sikap lapang dada.

           Lapang    dada juga  menemukan  momentumnya   di kala kita sebagai  pejabat  yang melayani  kepentingan umum,   menerima kritikan  pedas. Begitu pula saat   bawahan  menerima 'ceramah'  atasannya yang bila  diterima tidak dengan lapang dada akan sangat menyakitkan hati.

            Apapun keputusan wasit, tidak boleh kita lawan dengan kata-kata kasar juga serangan fisik  terhadapnya.  Hanya satu obat untuk menghadapi kondisi seperti ini yaitu   berlapang dada. Orang   sering menyebut dengan istilah lain yaitu  sabar.

             Melalui tulisan sederhana ini, aku berpesan untuk diri pribadi dan juga kepadamu, mari membakali  diri kita  dalam hidup  yang banyak  cobaannya ini dengan sifat dan sikap lapang dada,  sebab di atas semua dan di atas segalanya  ada Dia Yang Tidak Pernah Ngantuk Dan Tidur   yang  sejatinya  Dialah Wasit Yang Maha Adil  untuk kita. Wallahu 'alam

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya