Sabtu, 03 Juli 2010

Komentator Nonton Bareng Di Pos Rw


Dari pagi hari pak RW berkali-kali menelponku, berpesan agar jangan lupa malam ini menjadi komentator sepakbola di lapangan sepak bola depan pos RW.

Entah dari siapa info tentang diriku yang mampu bicara tentang sepakbola. Nyatanya pak RW sangat mengharap kehadiranku. Tidak mungkin undangannya ku tolak. Selain untuk menyalurkan hobby kesempatan ini pun akan ku manfaatkan untuk sedikit memasukkan nilai-nilai ajaran Islam.

Lepas Isya setelah makan malam, seorang panitya penjemput telah menunggu di depan pagar rumahku. Maka kusegerakan makan malam itu. Bagai seorang tamu penting akupun diantar langsung ke lokasi. Di lokasi acara sudah penuh warga yang menanti. Layar lebar yang di pasang menutupi kantor pos RW kami, sangatlah terang gambarnya sebagai akibat pantulan dari infocus.

Mulailah saya di persilakan menyampaikan komentator pertandingan antara Brazil dan Belanda. Di sela-sela analisaku sebelum pertandingan, tanpa malu kuingatkan agar menghindari judi karna akan membuat penyesalan dan rasa penasaran tak berkesudahan.

Betapapun sepakbola hanyalah sebuah permainan pasti ada yang kalah dan menang.
Jadi sikap kita hanya sebatas hiburan. Juga ku sisipkan pesan filosofi moral yang terkandung dalam olah raga sepak bola itu.

Kalo pemain luar yang profesional sangat menghormati wasit. Tidak berani memprotes wasit secara kasar apalagi memukulnya seperti yang kita lihat dalam pertandingan antar kecamatan di negeri kita.

Sabar dan tidak memandang enteng lawan adalah modal dasar bila ingin menang. Dan ternyata Belanda memiliki hal itu, dibanding Brazil yang terkesan jumawa alias sombong dan kehilangan kesabaran.

Maka kusampaikan hal ini mumpung yang nonton bareng ada unsur ibu2 rumah tangga, maklumlah sekarang kita akan menghadapi kenaikan harga2 menjelang bulan Ramadhan. Siapa yang sabar tahan uji pantang menyerah serta percaya diri merekalah yang akan menang. Dan kenyataannya Belanda memiliki hal ini.

Apapun agama dan kepercayaan yang dimiliki oleh pemain sepak bola, mereka adalah manusia yang meyakini bahwa yang dapat dilakukannya hanyalah usaha dan usaha karna toh hasil akhirnya hanyalah Allah swt Sang Maha Kuasa yang Maha menentukan. Maka disinilah pentingnya doa dalam setiap usaha.

Menjelang babak kedua berlangsung tak lupa ku ingatkan kepada para hadirin agar jangan sampe kesiangan sholat subuhnya meski apa yang kukatakan ini bagai angin yang berlalu tanpa bekas.

Demikian tulisan ini kubuat dari pandangan mata menjadi komentator sepak bola pertandingan pertama. Untuk pertandingan keduanya sebenarnya pak RW memintaku pula. Tapi kutolak secara halus karna takut tidak berjamaah di Masjid kala sholat subuhnya. Trima Kasih

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya