Selasa, 28 September 2010

Bukan Sekedar Doa Formalitas


Hari itu adalah hari yang berbahagia bagi kedua mempelai. Duduk bersanding di pelaminan laksana raja dan ratu sehari.

Pengantin pria berwajah ganteng nan rupawan.Berbusana khas pengantin. Begitupun penganten wanita berwajah cantik jelita, dalam busananya yang anggun lagi bersahaja berhiaskan manik-manik dan untaian putih bunga melati. Memberi kesan akan kesucian jiwa.

Resepsi pernikahan semakin meriah dengan hadirnya ratusan pasang undangan. Yang asyik menikmati berbagai macam sajian. Dari Es teller hingga makanan tradisional Indonesia dan masakan Eropah yang asyik di lidahku.

Goyangan lidah penyantap hidangan lezat makin lincah seiring alunan musik lembut namun dinamis. Suasana resepsi penikahan yang berkelas.

Demikian sekelumit suasana resepsi pernikahan yang berlangsung beberapa tahun yang lalu. Kini hanya tinggal kenangan yang tersimpan di album foto kenangan. Tinggal kenangan yang nyaris terlupakan karena falbum foto ini hampir saja dibakar oleh salah seorang bekas pelaku pernikahan itu.

Apa yang terjadi ? Pernikahan yang meriah dan berbiaya mahal itu ternyata hancur berkeping di hantam prahara badai pereceraian. Apa sebab ? Akupun tak tau. Yang pasti ada sebuah masalah. Dan pada setiap kehidupan rumah tangga di manapun pasti menghadapi masalah.

Yang sering menjadi ukuran keberhasilan resepsi pernikahan umumnya diukur dari kemeriahan dan jumlah tamu yang hadir dan pasti dari jumlah uang amplop sumbangan yang diterima oleh 'shohibul hajat'.

Dalam kehidupan pernikahan faktor materi memang perlu tapi bukan segalanya. Realita saat ini banyak pernikahan yang berpondasikan materi. Selama materi cukup dan banyak memang pernikahan akan aman stabil. Tapi harap diingat hidup manusia di dunia tidak selamanya enak dan di atas. Ada uang suami disayang tak ada uang suami silakan angkat koper.

Para undangan yang menghadiri resepsi pernikahan bukan orang yang semata-mata ingin makan enak dan minum lezat. Mereka datang dengan membawa pesan dan doa. Laksana pengiring yang mengiringi keberangkatan dua sejoli dalam pelayaran kapalnya. Kapal yang dimaksud di sini adalah kapal rumah tangga. Mereka membawa restu dan doa yang diucapkan di pinggir dermaga pelabuhan.

Selamat berlayar, ingatlah selalu tidak selamanya lautan itu tenang. Datangnya badai adalah hal yang niscaya pasti sebagai ujian ketahanan ikatan cinta suci dan lautan tidak selamanya pasang. Bisa juga surut. Bila pasang banyaklah bersyukur dan bila syurut banyaklah bersabar.

Doa kami para tamu undangan akan menyertai. Doa kami bukan sekedar doa formalitas basa-basi menjelang dipersilakannya kami menyantap hidangan dalam jamuan resepsi pernikahan.
Semoga bermanfaat bagi yang akan dan sudah menikah.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

thanks ustad..insyaAllah bermanfaat artikelnya..

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya