Senin, 20 September 2010

Gaul Yang Berprinsip


Di tempat kerjaku suasana pergaulannya sangat akrab. Karyawannya berasal dari berbagai macam latar belakang suku maupun agama.

Mulanya mereka banyak yang menyangka diriku tertutup atau memiliki pribadi kaku karna berpenampilan dan berprilaku layaknya orang yang taat beragama.

Jangankan minum Miras untuk menyedot sigaret kretek mulutku sangatlah pantang. Waktu habis di depan komputer menelaah angka- angka laporan. Dan bila waktu istirahat tiba kusegera menuju musola untuk sholat dan segera makan siang. Hal ini kulakukan selama hampir tiga tahun. Sampai aku sadar bahwa prilaku tertutup diri ini harus ku robah.

Suatu hari ada teman yang sakit. Hampir semua karyawan pergi membezuk. Ternyata tak satupun yang menngajakku. Aku baru tahu setelah mereka pulang dari rumah sakit. Dan kutanyakan mengapa tidak mengajakku ? Jawab mereka lirih, takut mengganggu pekerjaan yang mesti kuselesaikan.

Padahal teman yang sakit itu adalah teman yang bersikap baik padaku. Menyesal kenapa tidak ikut pergi menjenguknya. Akhirnya kuberkesimpulan, pribadiku memang tertutup alias kurang gaul.

Sejak saat itu, setiap pagi sebelum jam kerja dimulai kusempatkan untuk menyapa dan mengobrol dengan teman sekantor. Bahkan kumulai sejak turun dari mobil yang kuparkir di lantai bawah gedung. Satpam, office boy semua kuajak jabat tangan sambil kuberikan senyuman.

Maka kesan pribadiku yang angker dan tertutup sedikit demi sedikit mulai berubah. Suatu hari pulang kerja aku diajak teman-teman pergi makan malam bareng sambil main karaoke. Kuturuti ajakan mereka. Tapi saat maghrib tiba aku izin untuk sholat. Begitupun saat mereka menyuruh menyumbang lagu juga kuturuti, dan sebuah lagu pop religi keluar dari kerongkongan ini.

Waktu musim piala dunia sepakbola, teman-teman selalu mendengar prediksiku setiap pagi menjelang kerja bahkan berlanjut di waktu senggang. Tapi untuk bertaroh sudah tentu kutolak secara halus dan merekapun bisa memahami.

Maka semakin hari merekapun makin akrab dan dekat denganku, banyak juga yang sambil ngobrol sambil bertanya soal-soal agama. Kesempatan ini sangat ku manfaatkan untuk mencoba menjelaskan tentang ajaran Islam.

Tatkala anakku dikhitan mereka berombongan datang ke rumah. Semula aku tidak menyangka begitu besar perhatiannya pada acara itu.

Hingga ketika terjadi perundingan antara pihak karyawan dan manajemen perusahaan tanpa kuduga mereka mempercayaiku sebagai wakilnya untuk negoisasai.

Melalui tulisan sederhana ini aku hanya ingin sedikit berbagi cerita tentang seni bergaul yang bila kita tidak pandai memainkannya akan merugikan diri sendiri. Semoga bermanfaat.

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya