Minggu, 26 September 2010

Harga Diri Ayah Yang Tergadai


Tersebutlah di pelosok negeri ini, seorang anak gadis. Dia sejak kecil disayang dan dimanja oleh kakak-kakaknya dan kedua orangtuanya.
Sebut saja nama gadis ini dengan nama Roxane. Ia anak bungsu dari empat bersaudara. Dari kecil anak ini memang mempunyai kepandaian dan prestasi di sekolahnya. Terbukti selalu ranking.
Pada saat ia berusia 11 tahun, ibunya wafat karena sakit. Singkat cerita anak gadis ini terus tumbuh dewasa. Berbeda dengan ketiga kakaknya, Roxane oleh sang Ayah disekolahkan hingga sarjana.
Sebagai anak yang cerdas Roxane, dapat menyelesaikan program sarjananya dalam bahasa Denmark. Bahkan ia sempat berkerja beberapa bulan di negara Denmark. Ayah dan kakak-kakaknya dengan berat hati melepas Roxane pergi jauh ke Eropah, mengingat dirinya seorang gadis sekaligus anak yang disayang. Pergi jauh ke luarnegeri tanpa ditemani muhrim sangatlah riskan dalam pandangan Islam. Apa yang terjadi dan apa yang ia lakukan di sana tidak ada yang tau. Hanya segenggam rasa percaya kepadanya, bahwa Roxane telah dewasa, sudah mengerti bagaimana menjaga kehormatan diri.
Sepulang dari kerja di Eropah, Roxanepun menikah. Seorang teman kakaknya berani melamar Roxane. Alangkah bahagianya keluarga mendengar anak sekaligus adik kesayangan akan menikah. Sayang seribu kali sayang, ternyata 'kegadisan' Roxane telah hilang dimakan seorang Big Bos. Menggemparkan sekaligus menyedihkan. Tapi Ayah Roxane tidak menunjukkan expresi marah. Seakan melindungi bahkan menganggap hal itu sebagai suatu yang wajar di zaman jahiliyah modern ini.
Alhasil meski pernikahan tetap berlangsung dengan lelaki yang makan getahnya, bukan dengan Big Bos yang mengambil kesucian Roxane, umur pernikahan itu hanya beberapa bulan saja dan hancur lebur, diterpa perceraian.

Dan sang Ayah sekali lagi melindungi anaknya, sekaligus menyalahkan suami Roxane. Dengan penilaian negatif.
Waktu terus berlalu. Tahun berganti tahun. Roxane tinggal dengan sang Ayah yang seorang pensiunan. Untuk keperluan hidup sehari-hari seperti biaya listrik dan air di rumah mereka , menjadi tanggungan pembiayaan Roxane.
Apa yang Roxane berikan pada Sang Ayah berupa sedikit uang belanja, uang listrik, telpon seakan menghipnotis dan membius Ayahnya untuk tidak memberikan wejangan dan nasehat tentang kehidupan. Apalagi mampu untuk memarahi Roxane.
Dan akhirnya berita yang sangat menghancurkan martabat harga diri keluarga adalah, ketika Roxane telah hamil di luar nikah dengan seseorang yang beda keyakinan.Pada saat seperti ini Sang Ayah tidak bisa berkata apapun kecuali menyuruh Roxane keluar dari rumah demi menutupi aib keluarga.
Semoga kisah nyata ini bisa kita jadikan i'tibar dalam mendidik keluarga. Semoga ! Tolong anda berikan komentar.

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya