Kamis, 02 September 2010

Menyikapi Negara Jiran Dengan Bijak


Tulisan yang kubuat ini tidaklah bermaksud untuk mengajari, apalagi menghasut. Juga bukan untuk memojokkan pihak pemerintah Republik Indonesia. Melainkan sekedar mencoba urun rembug atau sumbang saran moga ada manfaatnya.

Antara Indonesia dan Malaysia ditakdirkan memiliki banyak persamaan. Yang membedakan hanyalah dari segi kesejahteraan. Berjuta anak negeri kita pergi berbondong-bondong ke negeri jiran untuk merubah nasib. Ada yang berhasil tapi banyak pula yang pulang dengan tangan kosong bahkan pulang nama.

Mestinya ini menjadi bahan mawas diri bagi para petinggi negeri, para pengambil kebijakan, agar selalu berupaya mencarikan solusi untuk menekan gelombang para pencari kerja ke negeri jiran.

Tentu kita tersinggung manakala bangsa kita dihina dilecehkan di negeri orang. Bila mau mencari siapa yang salah. Salahkanlah para tikus-tikus koruptor yang mencuri uang rakyat yang hakikatnya adalah pengkhianat bangsa dan negara. disebabkan perbuatan mereka maka negara kita dirugikan yang pada akhirnya kesejahteraan rakyat tak kunjung tiba.

Harus diakui meski bangsa kita telah merdeka sejak 17 Agustus 1945, ternyata penjajahan masih terjadi. Yang menjajah bukan 'bule belanda' melainkan para 'londho ireng' yang memakai dasi bermental 'aji mumpung'. Mereka tega mengkorupsi uang rakyat.

Kepala kita harus tegak karena memiliki harga diri, kita jangan mau dihina. Bersamaan dengan itu hukuman bagi para koruptor pengkhianat negara harus diperberat. Sebab sehebat apapun pembangunan untuk mensejahterakan rakyat, akan sia-sia jika segala praktek ketidakjujuran terus berlangsung.


Menyikapi tindakan tidak terpuji negara jiran, maka sebagai bangsa yang menjunjung norma budaya yang tinggi, kita seyogyanya lebih mengedepankan cara yang santun. Cara santun bukan berarti lembek dan lemah. Cara santun tidak sama dengan takut. Budaya berbalas pantun meski terdengar lembut namun bisa sangat mengena dan tajam dijiwa. Kita percaya bahwa masih banyak orang Malaysia yang waras hatinya.

Melalui tulisan sederhana ini aku menyerukan, agar Indonesia mencoba jalur diplomasi tidak resmi. Peran para tokoh Ulama dan ketua ormas Islam harus lebih menonjol dan memposisikan diri. Tidak ada kata terlambat untuk mencoba. Saya yakin Malaysia akan mendengar tutur kata para tokoh Islam Indonesia.

Semoga di masa depan jika terjadi perselisihan antar Indonesia dan Malaysia akan terjadi titian muhibah atau kunjungan persahabatan atas dasar pemikiran positif untuk saling menghargai. Dan disinilah peran ulama yang tidak memiliki pamrih politik sangat dinantikan. Semoga !

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya