Sabtu, 18 September 2010

Sawang Sinawang Di Balik Opor Ketupat Silaturrahim


Usai Sholat Idul Fitri segera aku bergegas pulang ke rumah. Di sebuah desa ijo royo-royo nan permai subur di Jawa tengah.
Hasrat tak tertahankan untuk segera mencicipi masakan opor ayam berikut sambal goreng kentang dan krupuk mlinjo yang bersynergy dengan ketupat. Menambah cita rasa hari raya semakin riang bersama mentari pagi cerah mengusir mega di pagi itu. Begitu rindunya diri ini dengan masakan khas hari raya ini, yang jika dihidangkan di luar idul fitri rasanya tak seenak kali ini.

Niat hati ingin nambah sepiring lagi, namun pintu rumah diketuk. Segera istriku membukanya. Rupanya anak tetangga sebelah datang bersama istri dan anak-anaknya. Dia adalah Mas Mumpung bersama Mbak Ndharani. Sosok keluarga yang sukses dalam karier materi di Jakarta. Dua malam lalu mudik bersama mobil barunya yang tiap tahun ganti.

Wow wajah Mas Mumpung dan Mbak Ndharani begitu semringah bersama baju batiknya yang ngejreng mengkilat sebanding dengan cat mobilnya yang masih mulus licin. Maka mulailah obrolan dibuka dengan tanya menanya interview pengalaman di jalan mudik. Arah perbincangan lalu ke arah pendidikan anak. Menyekolahkan anak jangan takut biaya mahal katanya. Untuk masa depan anak sebagai orang tua mesti optimal.

Begitu juga Mbak Ndharani sangat bersemangat dalam presentasinya tentang cara jitu menambah dan membantu penghasilan suami. Membuat mata istriku sulit berkedip melihat kedua tangan Mbak Ndharani aktraktif bagai memamerkan gelang-gelang tangannya yang gemercing nyaring.

Obrolan beralih kepada soal perawatan mobil yang menurut Mas Mumpung, untuk soal mobil jangan ragu untuk berganti mobil bila mobil sudah mulai rewel. Daripada rewel-rewel segera saja diganti katanya. Dan harus berani meninggalkan bensin premium demi kualitas mesin yang prima.
Hampir 30 menit kami berbincang nampaknya Mas Mumpung dan Mbak Ndharani sangat antusias memotivasi kami. Kami sebagai tuan rumah hanya pasif mendengarkan.

Dan tiba-tiba datang tamu kami berikutnya. Dia adalah Mas Sabar dan Mbak Prihatin. Setelah Mas Mumpung dan Mbak Ndharani mohon izin pulang. Obrolan kami dengan Mas Sabar dan Mbak Prihatin lebih bebas. Mas Sabar adalah sosok pekerja keras yang tegar menghadapi perjuangan hidup di kota besar Jakarta.

Dua hari lalu mereka mudik berjejal-jejal di kereta ekonomi. Anak-anaknya tidak ada yang ikut demi penghematan biaya. Mas Sabar bercerita tentang persaingan usaha yang ketat. Untuk mencari yang haram saja susah apalagi yang halal katanya bergurau. Dari raut wajah Mas Sabar dan Mbak Prihatin terpancar jiwa yang tegar dalam pergulatan hidunya di kolong langit Jakarta.

Meski dihimpit oleh beban hidup mereka tabah,tetap tersenyum tiada kata surut kebelakang. Yang mereka butuhkan selalu adalah doa dari orang tuanya yang masih hidup di kampung sebagai bekal moril perjuangan hidup di Jakarta. Untuk itulah mereka selalu berusaha mudik meski berhimpit-himpit di kereta ekonomi.

Melalui tulisan sederhana ini, aku hanya mampu bercerita padamu akan warna-warni cerita hidup anak manusia yang kita mesti mampu mengambil pelajaran darinya. Dan inilah yang kurekam dalam acara silatrurrahim Idul Fitri 1431 di kampung halaman. Semoga ada manfaatnya.

2 komentar:

Nur mengatakan...

dua sisi manusia yg berbeda dalam memaknai kehidupan, lebih maupun sedikit ats rizki yg kt dapat yg terpenting bgmana cara kita bersyukur atas nikmatnya dan Allah ridho atas ikhtiar kt,btw kl Allah ridho Insya Allah yg sedikit bs jadi berkah.bismillah mudah2n ana mapun tmn2 skalian mjd org yg pandai bersyukur

Imam Santoso mengatakan...

betul mbak nur

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya