Sabtu, 02 Oktober 2010

Di Istiqlal Sukmaku Melayang


Hidup di Jakarta memang berat dan keras bagiku. Sebagai sales marketing sudah menjadi resikonya keliling jalanan masuk keluar gang kecil menawarkan barang dagangan. Peluh keringat banting tulang tak kurasa asalkan anak istri perutnya terisi makanan yang halal.
Siang itu di saat cuaca panas Jakarta, kaki ini mengayun ke sana kemari tapi hingga menjelang zhuhur belum satupun barang dagangan laku. Rasa haus dan lapar makin memberatkan langkahku.

Seperti ada yang memberitahu, akhirnya kaki ini mengantarkan ke Masjid Istiqlal. Niat hati ingin membeli makanan yang dijual di halaman Masjid, ternyata uang yang tersisa di dompet sangat minim. Pikir punya pikir akupun memilih sholat bejama'ah terlebih dulu, bersama ratusan orang di dalam Masjid ini.

Usai sholat akupun duduk berdoa sambil termenung. Harus kemanakah lagi kaki ku melangkah ? Aku mencoba memandang wajah-wajah soleh yang sedang duduk bersimpuh di dalam Masjid. Seakan ada energy positif yang terpancar dari wajah mereka yang dapat menguatkan bathin jiwaku. Hidup memang penuh tantangan perjuangan. Kecuali kekuatan fisik diperukan pula kekuatan mental spritual.

Aku menghampiri seorang jama'ah yang sedari tadi kuamati pandangan matanya menerawang sambil duduk bersender di tembok Masjid, kamipun berkenalan mengobrol tukar pikiran. Bapak ini sedang mengalami masalah, anaknya hamil di luar nikah. Lelaki yang menghamili anaknya meskipun kaya tapi beda keyakinan. Anaknya sekarang pergi entah kemana dan dimana .Karena menutup malu anaknya harus pergi dan keluar dari rumah. Bapak ini mengaku salah mendidik anak. Anaknya terlalu dimanja.

Usai mendengar kisah sedih dari Bapak Tua ini, mataku mengajak terpejam untuk tidur sejenak. Maka ku rebahkan badan ini tepat di bawah Qubah Masjid yang besar melingkar. Angin yang berhembus sepoi dan menghantam tembok batu marmer granit Masjid menambah sejuknya suasana jiwa dan raga ini. Sebelum terlelap aku berkesimpulan, semua manusia menghadapi ujian dan masalah. Dan tak terasa sukmaku melayang bersama kedamaian hati terlelap nikmat di Masjid Istiqlal.

Usai istirahat sejenak di Masjid Istiqlal, jiwa dan raga ini serasa segar dan tegar dalam menghadapi kerasnya kehidupan.
Dan akupun mengayun langkah pasti bersama doa....

1 komentar:

buku islami mengatakan...

masjid yang indah untuk sholat

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya