Kamis, 07 Oktober 2010

Makna Modern


Di sebuah pulau terpencil di lautan Karibia Amerika latin. Seorang pemuda desa bernama Gumun. Ia anak desa yang hidup di tengah lebatnya hutan. Pekerjaannya hanyalah berburu dan berkebun.

Sebagaimana penduduk desa yang taraf hidupnya sangat terbelakang dan primitif. Ia akan sangat terpukau melihat orang asing yang datang. Biasanya para turis yang hendak berlibur dan berjemur menikmati indahnya panorama pasir putih dan gelombang air laut untuk bersilancar.

Meski pulau tempat tinggal Gumun adalah pulau yang indah namun sangat jarang turis yang datang berlibur ke sana. Maklumlah lokasinya sangat jauh dari daratan. Kecuali para turis, yang datang ke pulau itu adalah para ilmuwan yang hendak riset tentang budaya dan kandungan alam yang terdapat di pulau itu.

Untuk melihat dunia luar melalui televisi haruslah melalui televisi satelit yang terdapat di kantor perwakilan sebuah lembaga riset. Maka tiap malam, Si Gumun dan warga desa banyak yang menonton televisi di kantor itu.

Rasa penasaran dan mimpi untuk bisa melihat dari dekat berbagai keindahan kota besar dan modern yang ditampilkan dalam layar Tv, membuat Gumun berkhayal kapan suatu ketika bisa pergi ke kota besar yang paling dekat dengan pulau itu yang jaraknya bila naik kapal laut harus menempuh perjalanan 2 malam.

Hasrat ingin tahu kehidupan modern di kota besar Gumun sampaikan ke salah seorang ilmuwan peneliti yang telah akrab dengannya. Bernama Prof, Encher. Beruntung sang profesor baik hati karena juga ingin memperkenalkan contoh penduduk asli kepada para mahasiswanya tempat Profesor Encher mengajar di sebuah Universitas di kota besar yang terdapat di negara wilayah pulau itu berada.

Maka Profesor Encher dengan semangatnya mengajak Gumun pergi ke kota besar, untuk memenuhi rasa ingin tahu Gumun tentang makna modern.
Sesampainya di kota besar itu, Gumun sangat terpesona melihat ribuan mobil lalu lalang hilir mudik. ada yang di bawah ada yang di atas. Ada yang di samping. Begitupula saat malam tiba. Lampu kota yang temaram mebuat mata Gumun sulit berkedip,
apalagi melihat gadis-gadis kota yang hilir mudik membuat nafsu normalnya bergairah.

Gumun bertanya pada Profesor Encher. Apakah ini yang namanya modern ? Sang profesor berkata bukan ini yang ia ingin perlihatkan kepada Gumun. Ada sesuatu yang ia ingin perlihatkan kepada Gumun. membuat hati gumun makin penasaran saja dibuatnya.

Profesor dan Gumun akhirnya masuk ke sebuah Night Club yang ada di kota besar itu. Dan suasana Night Club yang bergemuruh dengan alunan musik yang menghentak-hentak disertai tata lampu yang gemerlap, dan banyak manusia yang bergoyang meliuk-liuk membuat Gumun berbisik dan bertanya lagi, apa ini yang akan diperlihatkan oleh Profesor Encher ? Bukan, sabar nanti jam 12 malam kamu akan melihat sesuatu yang seru.

Rasa penasaran Gumun makin menjadi-jadi, tak sabar menanti., jam 12 malam tiba.
Dan tepat jam 12 malam tiba-tiba ruangan dalam Night Club lampunya padam. Musik pun berganti musik lembut memanja. Tidak lama kemudian, lampu hanya menyorot tubuh wanita yang berdiri di atas panggung pertunjukan. Dengan diiringi musik lembut yang makin keras, wanita yang semula berpakaian sopan ini lambat laun menanggalkan pakaiannya satu persatu hingga polos bugil.

Tepuk tangan sorak-sorai menyambut atraksi ini. Tapi anehnya Gumun biasa saja. Tidak menunjukkan reaksi sebagaimana orang yang melihat pertunjukan itu.
Profesor Encher tidak dapat menutupi keheranannya atas reaksi Gumun yang dingin saja. Kenapa kamu ? Kok diam saja ? Ini yang namanya modern....ini yang namanya hidup di kota megapolitan. Begitu profesor Encher berkata kepada Gumun.
Dengan entengnya Gumun berkata lirih kepada Profesor, bahwa apa yang ia saksikan barusan bukanlah sesuatu yang aneh baginya. Karena pemandangan serupa hampir tiap hari ia saksikan di pulau terpencil dan primitif tempat ia tinggal sejak lahir.
Demikian sekelumit cerita tentang orang yang mencari makna modern. Kita jangan salah menilai arti modern. Modern bukan kumpul kebo, bukan minuman keras, modern bukan telanjang. Kehidupan modern kiranya manusia menemukan jati dirinya yang sejati sebagi makhluk Allah swt yang beradab dan berakhlaq mulia. Wallahu 'alam

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya