Selasa, 26 Oktober 2010

Mencari Guru Dan Sekolah Terbaik


Setelah pensiun aku bertekad untuk tidak menyerah dengan waktu. Aku tidak ingin menunggu kematian. Maka yang harus aku lakukan adalah mencari pekerjaan dan kuliah lagi. Maka serasa diri ini masih muda. Soal rambut beruban bisa kuatasi dengan menyemir. Soal kebugaran fisik dapat aku atasi dengan rajin olahraga jogging atau main golf.

Pendek kata, aktivitas keseharianku tidak berbeda seperti waktu belum pensiun. Pagi kerja sore hingga malam kuliah lagi. Bila ada waktu senggang aku gunakan untuk menengok cucu atau mencari dan membaca buku terbaru.

Apa yang ada di benak pikiranku adalah berfikir dan terus memikirkan tentang segala yang berhubungan dengan ilmu dunia, tidak ada ruang untuk memikirkan hidup sesudah mati. Telinga ini serasa alergi bila ada yang mengajak bicara tentang Islam apalagi tentang akherat, rasanya aku tutup rapat-rapat.

Istriku berbeda prinsip, dia adalah aktivis pengajian ibu-ibu. Sering sekali rumahku dijadikan tempat pengajian. Sering pula aku diajaknya untuk ikut mendengarkan santapan rohani dari seorang ustadz, namun aku lebih suka pergi main golf atau pergi ke toko buku mencari buku baru.

Bapak sibuk siang malam. Bapak jarang di rumah. Biarpun udah pensiun bapak masih giat bekerja dan kuliah lagi. Inilah kata-kata yang sering dijadikan alasan oleh istri manakala para tetangga menanyakan tentang diriku. Bahkan anak-anakku yang sudah rumah tangga semua dan hidup mapan, untuk dapat berjumpa denganku tidak mudah. Harus membuat janji dulu. Kalaupun ada masalah hanya melalui telpon untuk membicarakannya.

Namun harus aku akui, semakin belajar dan mengejar ilmu dunia rasanya selalu kurang dan kurang terus. Dan makin penasaran untuk mencari tempat kuliah dan guru yang terbaik sesuai disiplin ilmu yang aku pelajari. Pokoknya asal aku tamat program S1 bidang suatu bidang studi akan aku lanjutkan untuk kuliah lagi mengambil bidang studi lainnya. Terus dan terus begitu.

Hingga suatu pagi terbetik berita bahwa tetangga sebelah meninggal dunia. Sebenarnya aku paling alergi dan takut bila datang ke tempat orang kematian. Namun karena yang meninggal ini adalah tetangga dekat, maka terpaksa aku harus mendatanginya.

Dari mulai memndikan mayatnya hingga mengkafani serta menguburkannya tanpa sadar, mataku menyaksikan meski di hati ada rasa takut tapi mau. Rekaman peristiwa itu terus membayang di memory fikiranku. Hingga larut malam saat istriku sholat tahajjud. Aku tidak bisa tidur dalam gelisah tak menentu. Apalagi saat istriku membaca Alqur'an.

Saat subuh tiba aku yang biasanya jarang sholat, hari itu badan dan jiwaku serasa ringan untuk sholat subuh. Aku tersadarkan dalam tafakur seusai sholat, bahwa umurku telah tua. Betapapun aku berusaha menghindari kematian, ternyata kedatangannya makin dekat dan tambah mendekat saja.

Ternyata aku telah menemukan guru dan sekolah terbaik untuk menyadarkan jiwa gersang yang selalu tidak pernah merasa puas ini, yaitu kematian.
Moga bermanfaat....

1 komentar:

N. A. H. A mengatakan...

Alhamdulillah saudara sudah mendapat hidayah mungkin dengan berkat doa serta sifat sabar isteri sdr ,mudah2an suatu hari nanti Allah bukakan pintu hati suami saya pula.

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya