Selasa, 05 Oktober 2010

Metafora Petani dan Ladang Sawahnya


Sebagai guru Agama yang di tempatkan di daerah terpencil, membuat diriku harus mampu beradaptasi dengan masyarakat setempat. Segala kebiasaan mereka aku amati dan pelajari. Kendati mereka umumnya beragama Islam, namun banyak yang tidak memahami ajaran Islam dengan benar. Bahkan kepercayaan nenek moyang yang tersisa masih kuat melekat.

Dari mana harus memulainya ? Setelah jam sekolah aku memberi pelajaran tambahan berupa bimbingan belajar membaca Al-qur'an. Kesabaran adalah kunci keberhasilan. Dari limapuluh siswa putra/putri yang awalnya ikut, lama kelamaan terus menyusut hingga hanya sepuluh atau lima belas orang saja. Tentu dengan berbagai macam alasan mengapa mereka tidak ikut.

Selain di sekolah akupun terus mencoba mengadakan pendekatan kepada warga masyarakat sekeliling rumah. Untuk menawarkan diri secara halus membimbing mereka dalam belajar Agama. Semua yang kulakukan hanya berdasar keikhlasan tanpa mengharap imbalan materi. Kepedulian adalah kata yang tepat, mengingat meski mereka secara de facto muslim namun secara kualitas masih jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Kecuali buta huruf alqur'an, tidak sedikit mereka yang belum mengerti tentang masalah bersuci (thoharoh). Belum mengerti pula bagaimana gerakan sholat yang sesuai dengan sunnah Rosul saw. Maka meski aku sudah lelah mengajar dari pagi hingga siang di sekolah. Habis ashar hingga malam, akupun keliling kampung mengajar dari rumah ke ruimah. Dari hari ke hari makin banyak saja mereka yang ingin belajar Islam. Adalah kepuasan bathin yang tak terhingga yang kurasakan saat semua muridku yang terdiri dari siswa SMP hingga SMA sampai para ibu dan bapak, aku kumpulkan dalam acara menyambut bulan Ramadhan. Tetes air mata haru bahagia.

Apa yang kulakukan hanyalah mencoba mewujudkan filosofi dan perumpamaan bahwa sosok guru agama atau da'i laksana Petani yang mesti sabar dan rajin mengolah serta memelihara sawah ladangnya. Yang dalam hal ini para murid atau obyek da'wah laksana sawah ladang itu.
Prinsip ajaran inilah yang selalu mengiringi setiap aku melangkah mengajarkan agama.Maka dalam mengajarkan Islam, para murid selain menganggapku sebagai guru agama juga sebagai orang tua atau kakak yang bisa diajak konsultasi masalah pribadi. Dan akupun sangat terbuka untuk mendengar sekaligus mencarikan solusi bagi masalah yang mereka hadapi.
Demikian sekelumit pegalaman yang dapat aku kisahkan kepadamu, mari kita berbuat sesuatu yang terbaik buat Islam sesuai kemampuan yang kita miliki. Sabar dan ikhlas adalah kunci sukses perjuangan tanpa pamrih materi. Insya allah.

3 komentar:

Nur mengatakan...

keep hamasah

Seno Widi Hardjo mengatakan...

Mbak Nur Semoga Menjadi Inspirasi Kita !

Anonim mengatakan...

Saya sungguh bangga melihat kenyataan bahwa masih banyak guru -guru khususnya guru Agama Islam seperti mbak NUR ,YANG DENGAN KETULUSAN DAN KEIKHLASANNYA MAU MEMBANTU PADA HAMBA ALLAH YANG INGIN KEMBALI KEPADA JALAN YANG BENAR YAITU MENDALAMI AGAMA ISLAM,KENYATAAN HIDUP YANG SEMAKIN SULIT DAN GERSANG SEPERTI SAAT INI BAGI ORANG -ORANG YANG BERIMAN PASTI AKAN MENCARI TUHANNYA SEBAGAI SOLOSI BERBAGAI KESULITAN HIDUP YANG SEMAKIN MENGHIMPIT DAN MENYESAKAN DADA,HANYA CINTANYALAH YANG MAMPU MENGURANGI BEBAN DERITANYA ,KARENA CINTA ALLAH , CINTA RASUL YANG TERPATRI DALAM HATISANUBARINYA MEMBUAT JIWA MENJADI KUAT DAN MERASA BERHARGA DI MATA aLLAH AKAN MELEMBUTKAN JIWANYA,MASALAH CINTA INI HARUS SELALU TUMBUH PADA SETIAP DADA HAMBANYA AGAR MEREKA SELALU TERPELIHARA KEHIDUPANNYA BAIK DI DUNIA DAN AKHERAT.

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya