Sabtu, 09 Oktober 2010

Tolak Bogem Mentah


Negeri Indonesia adalah negeri yang kaya raya. Memiliki aneka ragam kekayaan alam dan aneka ragam suku bangsa. Keaneka ragaman suku bangsa adalah aset yang jika bisa kita synergykan merupakan kekuatan yang besar dan ampuh dalam membangun bangsa yang berkarakter.

Tapi laksana paduan musik semuanya tentu sangat tergantung kepiawaian sang derigen dalam mengelola potensi itu.

Prihatin sedih manakala kita hampir setiap hari melihat amuk massa yang terjadi di wilayah negara kita. Dari tingkat anak sekolah yang saling mengejek hingga tingkat mahasiswa yang saling membanggakan fakultas atau almamaternya. Bahkan di tingkat yang paling terhormat di tingkat dewan perwakilan rakyat pusat atau daerah terjadi saling perbedaan pendapat yang berujung benturan fisik.

Belum lagi bila terjadi adu domba atau saling provokasi antar suku bangsa, akibatnya sungguh sangat fatal. Dan bila ini terjadi lagi-lagi rakyat kecil juga yang akan terkena dampaknya. Konon bangsa kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi norma atau adab pergaulan. Meski memilik latar belakang yang sangat berbeda.

Melalui tulisan sederhana ini aku ingin mengajak kaum muslimin yang merupakan mayoritas penduduk di bumi Allah swt Indonesia, untuk menjadi pelopor bahkan soko guru terjadinya kehidupan yang harmonis. Sebab bila terjadi konflik horisontal, yang terkena dampaknya dapat dipastikan adalah ummat Islam.

Adalah Rosul Muhammad saw, teladan dan panutan ummat Islam yang telah berhasil membangun negara Madinah. Beliau memulainya dari Masjid yang langsung beliau dirikan setiba di kota Madinah.
Persaudaraan yang beliau ajarkan memiliki tiga prinsip. Pertama saling mengenal, kedua saling memahami dan ketiga saling menanggung beban (gotong royong).
Jika ketiga hal ini dapat diwujudkan dan dapat diejawantahkan secara operasional di lingkungan terkecil seperti pada sebuah Masjid, niscaya merupakan langkah teladan dan strategis bagi kehidupan masyarakat yang harmonis dan dinamis.
Sayangnya, dalam kehidupan organisasi (berjama'ah) di Masjid hal itu hampir-hampir tidak kita temukan lagi. Masih sering kita temukan perbedaan pendapat dalam hal yang tidak prinsip. Hal ini justru diperuncing, karena dibumbui nafsu egoisme serta kebanggaan kelompok.
Masih banyak ummat Islam yang lebih suka sholat sendirian di rumah ketimbang berjamaah sambil bermasyarakat di Masjid lingkungan terdekat. Dan bila sholat di Masjidpun hanya sekedar sholat saja, tanpa menyempatkan waktu untuk beranjangsana atau saling tukar fikiran dan info. Akibatnya terjadi kehidupan masyarakat yang damai tapi gersang.

Coba kita melihat kehidupan Masjid-Masjid yang di wilayahnya terjadi konflik horisonatal. Apakah Masjid itu sudah berfungsi optimal dalam menumbuhkan rasa saling menyayangi atau justru sering terkunci bila waktu sholat tiba.

Tulisan ini tentu saja tidak bermaksud menyederhanakan banyak faktor yang menjadi pemicu terjadinya konflik sosial, tapi paling tidak ingin menyumbangkan fikiran akan pentingnya fungsi Masjid untuk meredam potensi konflik seminimal mungkin. Semoga !

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya