Jumat, 12 November 2010

Teladan Langka Dalam Kabut Hedonis


Sore itu aku duduk di teras rumah sambil menyeruput teh manis berikut pisang gorengnya, hasil karya istri tercinta. Maksudku mau ngobrol berdua istri. Tapi tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah mobil sedan bagus yang berhenti tepat di depan pintu pagar. Ternyata sahabat lama teman kuliah dulu, ia bernama Mas Sajak e.

Luar biasa kesan dalam hatiku, masih muda namun sudah sekaya ini. Dua tahun lalu ia ke ke rumah naik sepeda motor tapi kini ia telah menjadi seorang usahawan sukses.

Penampilan Mas Sajak E luar biasa jauh beda dengan dua tahun lalu. Setelah jabat tangan penuh akrab kami pun mengobrol santai di teras rumah. Tak lupa istriku menghidangkan teh manis.

Mas Sajak E dalam obrolannya berkisah tentang kesuksesan usaha namun juga berkisah tentang kehancuran rumah tangganya. Kasihan betul kawan ini, gumamku dalam hati.

Usai ia berkisah tentang perjalan hidupnya, akupun mengajak Mas Sajak e pergi ke sebuah rumah besar, letaknya tidak jauh dari rumahku. Kami hanya jalan kaki santai sepuluh menit saja. Mulanya temanku ini tidak tahu untuk apa ia ku ajak ke rumah besar ini.

Di samping rumah besar ini ada Musholla bagus yang menyatu dengan bangunan rumah. Kami berdua duduk lesehan sambil memandang ke arah rumah besar.

Akupun mulai bercerita tentang Pak Haji Barokah. Ia dulu orang biasa. Bahkan dulu tergolong orang tidak mampu. Berbeda dengan kita yang mengeyam sekolah hingga perguruan tinggi. Demikian aku memulai memberi wejangan kepada Mas Sajak E. Namun berkat kegigihan usaha, bersama istrinya yang setia. Kini Pak Haji Barokah termasuk orang kaya yang terpandang dan disegani.

Dengan kekayaan yang ia miliki, tidak membuatnya lupa daratan hingga misalnya menambah nyonya. Walaupun ia sanggup untuk itu. Ia tidak lantas pula memperkaya diri sendiri dengan melupakan kondisi masyarakat sekeliling.

Yang ia lakukan adalah dengan membeli rumah besar ini, lalu ia mendirikan lembaga pendidikan dan ketrampilan. Semua peserta yang ikut dalam lembaga pendidikan ini tidak dikenai biaya. Dana operasional dan gaji tenaga pengajar menjadi tanggungan perusahaan Pak Haji Barokah. Bagi Pak Haji dan keluarganya, kebahagiaan tidak diukur dari harta melimpah yang lalu mencari kepuasan dengan harta itu. Tapi sudah menjadi prinsip hidupnya, kebahagiaan adalah ketika ia mampu berbagi kepada sesama.

Bukan hanya soal pendidikan yang menjadi fokus perhatiannya. Tapi juga soal ekonomi rakyat. Maka di sebelah depan rumah besar ini ada koperasi sekaligus sekolah Bisnisnya.

Mas Sajak E, hanya terdiam mendengar penjelasanku. Apa yang ia lakukan selama ini bertolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh Pak Haji Barokah. Bagi Mas Sajak E, uang dan wanita juga harta adalah suatu dogma hidupnya yang sulit untuk ia kalahkan. Maka yang terjadi, meski ia kini kaya namun kebahagiaan tidak kunjung datang.

Menjelang Maghrib Mas Sajak E pamit pulang, katanya mau buru-buru ketemu kawannya. Kamipun lantas bersalaman.

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya