Minggu, 16 Januari 2011

Jangan Paksa Aku Untuk Berbohong


Tepuk tangan meriah membahana dari segenap hadirin saat aku menjabat tangan pimpinan kepala cabang yang aku gantikan dalam acara 'pisah sambut' di sebuah hotel berbintang.

Malam 'pisah sambut' itu begitu meriah, karena dihadiri banyak karyawan cabang perusahaan tempat aku menjabat sebagai kepala cabangnya yang baru. Apalagi saat aku didaulat untuk tampil membawakan lagu. Suasana makin meriah saja.
Seperti diriku mereka yang hadir juga membawa serta para istrinya.

Begitulah sekelumit acara pisah sambut yang dapat kuceritakan kepadamu saat memulai tugas sebagai kepala kantor cabang.

Selanjutnya hari demi hari dan bulan berganti bulan, harus aku akui memang enak menjadi kepala cabang dengan segala fasilitasnya. Ada rumah dinas, mobil dinas, juga biaya pengobatan keluarga yang kesemuanya ditanggung oleh perusahaan.

Genap hampir setahun menjabat sebagai kepala cabang, aku berkesempatan meneliti secara detil laporan keuangan perusahaan.
Pagi itu aku memanggil kepala keuangan cabang, lalu coba dialog dan bertanya padanya terhadap kejanggalan sebuah laporan keuangan. Mulanya ia coba berkelit terhadap temuan itu. Namun kemudian ia tidak bisa mengelak. Nampak olehku keringat dingin terbit di kening kepala keuangan cabang ini. Setelah dengan nada keras aku membentaknya. Hal ini terpaksa aku lakukan karena ia berusaha menutupi ketidak jujuran. Aku berbicara empat mata dengannya dari jam 8 pagi hingga kumandang azan zhuhur terdengar.

Esok paginya seluruh staf keuangan aku kumpulkan. Semua berkas laporan keuangan aku suruh bawa dalam rapat. Dan kuteliti satu persatu. Rapat suasananya tegang berlangsung hingga maghrib. Hanya istirahat saat sholat atau makan siang saja.
Meski yang ku ajak rapat hanya khusus staf divisi keuangan namun dampaknya terasa ke seluruh bagian kantor cabang.

Aku tiba di rumah sudah malam. Malam itu tidak seperti biasanya aku tidak enak makan. Istriku bertanya ada apa ?
Lalu kuceritakan apa yang ku alami di kantor selama hampir setahun menjabat sebagai kepala cabang. Ternyata penyakit kebohongan atau ketidakjujuran sudah merajalela selama bertahun tahun sejak sebelum aku menjabat di kantor cabang ini.

Keesokan harinya, semua kepala divisi aku kumpulkan. Satu persatu aku pandang wajah anak buah ini dalam-dalam. Mereka ada yang menunduk, ada yang coba tegar memandangku.

Ku katakan kepada mereka untuk tidak usah takut,selagi mereka jujur bicara apa adanya. Sebagai kepala cabang saya tidak akan melaporkan mereka secara pribadi ke kantor pusat. Aku berkata, bahwa mungkin hanya diriku kapala cabang yang paling singkat menjabat dan bertugas di kantor ini.

Mendengar kata-kata ini, sontak wajah dan mata para kepala divisi menatapku.
Di antara mereka coba bertanya mengapa ? Toh ketidak jujuran ini sudah bertahun lamanya sejak aku belum bertugas dan menjabat di kantor cabang ini.

Aku berkata lirih kepada mereka, jangan paksa diriku untuk berbohong. Kalimat ini pulalah yang aku pakai saat istri bertanya mengapa mengajukan pengunduran diri sebagai kepala cabang ?

Tepat setahun setengah aku bertugas di kantor cabang itu, akhirnya permohonan pengunduran diri ini diterima oleh pimpinan di kantor pusat.

Sejak pagi hari, halaman rumah dinasku dipenuhi oleh anak buah yang akan menyampaikan ucapan selamat jalan dan selamat berpisah. Karena memang hari itu aku dan keluarga pindah ke Jakarta. Untuk selanjutnya aku dinas sebagai staf biasa di kantor pusat.

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya