Selasa, 25 Januari 2011

Sebatas Retorika saja


Di sebuah ruangan aula ada ratusan pasang mata yang sore itu mendengarkan diriku saat menyampaikan kuliah tentang ajaran Islam soal pelayan masyarakat atau 'khadimul ummat'.

Melihat perhatian audien dengan berbagai pertanyaan yang diajukan saat sesi tanya jawab, aku berkesimpulan baik materi ceramah maupun diriku yang menyampaikannya mendapat respon positif dari para hadirin yang umumnya para kader sebuah partai politik yang mencanangkan nomer tiga besar di pemilu 2014 nanti.

Dalam ceramah yang berlangsung selama satu jam setengah itu, aku banyak mengambil contoh dari akhlak Rasul saw dan juga para sahabat beliau yang mulia. Yang kesemuanya berangkat dari rasa ikhlas untuk 'rela berkorban' demi orang lain atau rakyat yang mereka pimpin apapun latar belakang keyakinan agamanya.

Seorang muslim harus gaul habis namun tetap memegang teguh prinsip keyakinannya tanpa ikut larut arus negatif. Misalnya ikut judi atau miras. Begitu pula untuk tingkat Rt/Rw harus 'ringan tangan' dan 'ringan kaki' untuk membantu program kerja bhakti. Dan tanpa segan-segan rela meminjamkan mobilnya jika ada tetangga yang sangat memerlukan misalnya untuk ke rumah sakit.

Pendek kata, inti dari ceramah tentang khadimul ummat yang aku sampaikan adalah bagaimana sikap yang terbaik dalam bermasyrakat yang heterogen atau majemuk agar tidak menjadi pribadi 'kuper eksklusif'. Kepedulian sosial adalah kata kuncinya.

Sesampainya di rumah usai menyampaikan kuliah tersebut, istriku bilang malam ini aku diundang rapat rt. Namun aku berkata, aku sedang kurang sehat.
Besok paginya ada tetangga yang mau pinjam mobil karena anaknya mau 'khitan' namun aku berkata, mobilku mau masuk bengkel.
Sore harinya saat sedang nonton tv, tetangga sebelah mengajakku main bulutangkis sambil ngobrol santai. Namun aku menolak dengan alasan sedang capek.
Malam hari saat bercanda dengan anak, ada teman meminta sumbangan konsumsi kerja bhakti, aku hanya memberi sedikit uang padahal di dompet ada banyak uang.
Besok pagi usai sholat subuh tiba-tiba telpon rumah berdering, ternyata aku diundang acara kerja bhakti, namun lagi-lagi aku beralasan mau pergi ke kantor meski hari minggu karena ada pekerjaan di kantor.

Ternyata harus kuakui, kalo hanya sekedar beretorika memang mudah namun dalam kerja nyata dan nyata kerja sangatlah sulit. Entah sampai kapan !?

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya