Jumat, 04 Maret 2011

Citra Kelabu Sang Nakhkoda


Hari ini kami berbaris rapih di anjungan kapal, karena nakhkoda baru akan segera naik ke atas kapal. Dalam tradisi di perusahaan pelayaran tempat kami berkerja, acara ini merupakan suatu penghormatan kepada kapten kapal yang untuk pertama kalinya akan naik dan masuk ke ruang anjungan.

Kapten ini bernama Mr De Bosh, perawakannya tinggi, tegap, sorot matanya penuh wibawa. Jabat tangan dan senyumnya hangat kepada kami para awak kapal.

Usai acara salam sambut ini, kami para awak kapal berdecak kagum dan penuh bangga terhadap sosok sang Nakhkoda baru. Taksiran kami dia adalah nakhkoda ulung yang telah banyak menjelajah lautan dan badainya. Tidak salah jika perusahaan pelayaran memberi kepercayaan kepadanya untuk memimpin pelayaran kapal besar ini.

Kapal ini adalah kapal penumpang. Yang akan menempuh perjalanan keliling dunia. Penumpang kapal ini terdiri dari banyak tipe manusia. Ada yang baik, ada yang jahat, ada yang suka kedamaian , ada yang suka keributan bahkan ada yang munafik bin oportunis.

Kecuali piawai dalam memimpin pelayaran, nakhkoda kapal ini haruslah juga mampu menghadapi berbagai tipe penumpang kapal. Bila tidak, yang terjadi adalah gangguan kenyamanan selama pelayaran berlangsung.

Maka malam itu kapal memulai pelayarannya dengan diiringi lambaian tangan para pengantar penumpang di pinggir dermaga pelabuhan. Dengan rasa kagum dan percaya diri kami para anak buah kapal juga larut dalam rasa bahagia karena pelayaran kali ini dipimpin oleh seorang nakhkoda yang sudah berpengalaman.

Malam berganti siang, hari berganti hari, bulan terus berganti bulan. Mulailah kapal menghadapi tantangan dan hambatan. Cuaca yang berubah-ubah, deburan ombak badai yang bergulung ganas. Begitupun hiruk-pikuk para penumpang yang berulah dengan masing-masing tabiat hobbynya. Telah membuat kami para awak anjungan berkerja dan berfikir keras bahu-membahu membantu tugas sang Nakhkoda.

Dalam suasana kalut menghadapi berbagai masalah, seringkali sang Nakhkoda tampak tidak piawai dalam mengambil sikap. Diri ini yang coba memberi saran justru sering disalah artikan oleh beberapa rekan sesama awak anjungan. Dan bahkan aku mendapati sikap yang tidak simpati dari sang Nakhkoda.

Demikian sekelumit kisah diri ini yang semula menjadi awak anjungan harus rela dipindahkan bertugas di dek bawah oleh karena sikap kritis yang justru dimanfaatkan oleh sesama rekan untuk 'cari muka' di depan sang Nakhkoda.

Ternyata aku salah mengira dan salah menilai sosok Nakhkoda yang citranya tampak kelabu tak secerah pertama kali ia menjabat tanganku.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

"semua yang digambarkan diatas nyaris ga ada satupun yg keliru,memang begitulah keadaan dinegeri yg kita cintai ini.."kita mengimpikan pemimpin yg Responsif..hidup ustad seno!!..Ghalib..

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya