Selasa, 15 Maret 2011

Jangan Kau Beli Mayatku


Sebenarnya aku adalah anak dari keluarga yang taat dalam beragama. Namun faktor kesulitan ekonomi dan akibat salah dalam memilih teman maka aku menekuni profesi sebagai biduan orkes kampung. Bersama dengan sesama rekan seprofesi serta grup musiknya kami sudah memiliki pelanggan yang akan mengundang untuk pentas pada acara pernikahan.

Tidak berlebihan bila diri ini disebut-sebut sebagai 'primadona'nya group orkes kami. Hingga aku muncul untuk bergoyang, para penonton rela menunggu. Dan bila aku tidak bisa hadir, mereka banyak yang kecewa.

Kecuali bermodalkan wajah ayu, aku juga memiliki potongan tubuh yang aduhai kata seorang teman. Menjadi tuntutan profesi jika aku harus goyang seronok di depan ratusan penonton. biasanya aku mulai tampil diatas jam 10 malam. Dengan iringan musik yang mendukung, mulailah diri ini berlenggang-lenggok tak kenal lagi sopan-santun. Sebab hanya dengan cara begitu aku akan mandi uang 'saweran'.

Entah untuk yang ke berapa kalinya aku naik ke pentas. Yang pastinya makin banyak permintaan saja untuk tampil bersama orkes musik kami. Aku sadar betapa telah membuat mata lelaki melotot melihat kemolekan tubuhku. Saat aku bergoyang sambil bernyanyi centil nan genit. Aku tak peduli asalkan uang mengalir deras.

Lama ke lamaan banyak lelaki yang berusaha mendekatiku. Ada yang tua, ada yang duda, ada yang muda. Bahkan ada yang pengusaha kaya. Namun aku belum terpikirkan untuk menikah dan akupun bukan tipe wanita murahan apalagi nakal. Meski aku seorang yang selalu tampil berani di atas panggung pertunjukan musik kampung.

Di antara sekian banyak lelaki yang mendekatiku, sebutlah ia bernama Vreman. Umurnya 30 an tahun dan telah berkerja dengan pekerjaan yang mapan. Memiliki rumah dan mobil. Tanpa kenal lelah dan henti, ia berusaha mencari dan mendekatiku. Bahkan telah bertemu dengan kedua orang tuaku di pelosok desa. Ia memang ingin menikahiku.

Berulang-ulang aku katakan padanya. Aku belum ada niat untuk menikah. Namun tanpa bosan ia berusah terus untuk mendekatiku. Lewat seorang teman yang membocorkan keberadaan kos tempat tinggalku, ia berhasil menemui.

Aku menyambutnya dengan sopan. Lalu setelah basa-basi, aku langsung bertanya untuk apa dia mengejar-ngejar diriku. Dengan sopan aku berkata padanya, kalau aku tidak memiliki kelebihan apapun kecuali hanya sekedar jual suara dan goyangan tubuh. Sedangkan dirinya dari keluarga berada dan berpendidikan. Kalau hanya karena kecantikan tubuhku hingga ia lalu jatuh cinta, aku berkata padanya, itu namanya cinta nafsu birahi. Jangan karena tubuhku yang mampu bergoyang sexy lalu membuatnya cinta. Kalau hanya karena itu semua, beli saja mayatku.

Mendengar ungkapan hati ini, mas Vreman terdiam menunduk lama. Aku coba berkata padanya agar pulang dulu, sambil merenungkan dan berpikir masak-masak. Dan aku juga berkata kepadanya akan berhenti total dari pekerjaan sebagai biduan kampung, bila telah menikah.

Hinga lebih dari sebulan dia tidak pernah terdengar kabarnya. Aku tak ingat lagi peristiwa di senja hari itu.
Di suatu pagi, aku dikejutkan oleh kedatangan Vreman berserta seorang Bapak dan Ibu. Rupanya orang tuanya datang untuk melamarku. Singkat cerita hari itu juga kami meluncur ke kampung saya di pelosok Jawa tengah.

Semoga jalan cerita hidupku dapat dijadikan pelajaran bagi anak-anakku dan mereka yang tetap ingin berada di jalan yang benar. Trimakasih.

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya