Jumat, 01 April 2011

Debt Collector Kasihanilah Aku


Saat aku pulang kerja wajah istri nampak suram tak seperti biasanya. Ada sesuatu yang ia ingin katakan, namun masih tertahan di dalam hati. Sambil makan malam aku coba mengira-ngira masalah apa yang terjadi. Dan ketika aku tanya ada apa ia tak menjawab.

Sambil menonton tv, aku mencoba duduk dekat istri yang sedari tadi duduk di teras rumah sambil melamun. Dan malam makin larut, semua anak-anakku telah tidur. Tinggal kami berdua duduk membisu di teras.

Dengan rasa emosi yang tertahan, istriku bercerita, bahwa tadi siang ada dua orang berwajah seram datang ke rumah mencari diriku. Mereka katanya ingin menagih utang.

Mendengar cerita istri, aku lama terdiam tertunduk malu. Harus aku akui bahwa sebagai suami saat ini tengah diliit utang. Jika aku bisa membelikan berbagai alat rumah tangga dan juga keperluan lain, itu banyak dari meminjam uang di bank. Mulanya aku dapat melunasi utang secara tepat waktu, namun saat roda usaha sedang sulit, terpaksa belum bisa melunasi utang ketika jatuh tempo.

Awalnya karena demi gengsi dengan teman, lalu ingin terlihat sebagai suami yang kaya dan peduli keluarga maka aku tergiur untuk memiliki kartu kredit. Istriku tidak tahu sebelumnya bahwa kebutuhan rumah tangga dapat terpenuhi dengan kartu kredit alias kartu utang. Maka gaya hidup konsumtif menjadi nafas keseharian keluarga kami. Akupun berprinsip bagaimana nanti saja bila ditanya soal resikonya.

Akhirnya bunga pun terus berbunga. Utang tetap utang makin menumpuk. Dan aku kehabisan akal untuk mencari solusi. Yang terjadi mulai malam itu aku sudah tidak bisa tidur nyenyak karena terbayang wajah seram dan bengis para debt collector.

Keesokan hari saat aku di kantor, tiba-tiba istri menelpon agar aku segera pulang. Debt collector menunggu di rumah sambil membentak kasar. Yang membuat anakku yang paling kecil menangis ketakutan. dan tetangga berdatangan. Badanku gemetar bersama keringat dingin. Teman di kantor melihatku, bertanya mencari tahu.

Akupun pulang cepat karena harus bertemu dengan debt collector. Sepanjang jalan menuju rumah pikiranku sudah tak menentu. Ada rasa malu dengan istri dan apalagi dengan tetangga. Ternyata di balik penampilan keluargaku yang nampak bahagia dalam kemewahan ternyata menanggung banyak utang di bank.

Hanya satu kalimat yang terucap berkali-kali kepada debt collector, kasihanilah aku.
Sambil aku berusaha mencari pinjaman lain untuk menutupi pinjaman di bank. Maka tutup lobang gali lobang menjadi 'lingkaran setan' kehidupan keluarga kami akibat tidak hati-hati memakai kartu kredit alias kartu utang.

Semoga bisa menjadi pelajaran.

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya