Senin, 04 April 2011

Tuntutlah Ilmu Hingga ke Negeri China


Rasanya sedih bercampur geram, melihat negeri kita kekayaannya diambil secara tidak sah oleh para maling berdasi. Sangat sedih bila ada maling yang perutnya lapar terpaksa harus mencuri ayam, lalu dihakimi secara sadis dan brutal oleh massa yang menangkapnya.

Di sisi lain para pejabat atau mantan pejabat, yang telah memiliki gaji atau penghasilan yang lebih dari cukup, tetap saja secara sengaja mencuri uang rakyat atau negara secara rakus. Dan hukumannya sering tidak sepadan dengan kejahatan yang dilakukan.

Usaha untuk memperkecil dan mempersempit gerak para maling berdasi terus dilakukan. Tidak hanya kepolisian dan kejaksaan yang berkerja siang malam untuk itu, tapi sekarang kita memiliki lembaga pemberantasan korupsi yang bernama Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ).

Adanya KPK seakan menjadi tumpuan harapan rakyat Indonesia yang merasa jijik melihat kerakusan para oknum pejabat yang tega dan tanpa merasa berdosa mencuri uang rakyat.
Bila hingga hari ini rakyat kebanyakan masih hidup terlunta-lunta di bawah garis kemiskinan, salah satu sebab utamanya karena uang bagi kemakmuran mereka telah dicuri oleh para koruptor. Padahal hasil bumi Indonesia sangat berlimpah ruah. Namun kemakmuran bagi rakyatnya masih jauh dari harapan.

Melalui tulisan singkat ini, aku hanya ingin mengajak semua lapisan masyarakat yang peduli terhadap nasib masa depan negeri tercinta ini, agar memerangi prilaku korupsi dari diri sendiri terlebih dahulu. Dan untuk memberantas sepak terjang para koruptor, mestinya kita mau belajar dan menuntut ilmu.

Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China demiian kata seorang ahli hikmah, bukan hanya ilmu perdagangan saja, tapi ilmu bagaiamana memberantas para Koruptor. RRC sangat keras tak kenal belas kasihan kepada mereka yang terbukti korupsi.

Selama hukuman bagi para koruptor itu tersandera dengan rasa kasihan atau mengingat jasa baik seorang koruptor, maka sulit menciptakan hukuman yang menimbulkan efek jera sebagai pembelajaran bagi mereka yang hendak menjadi koruptor.

Harus tega dan tegas tidak ada kompromi juga tidak pandang bulu serta tidak mempan disuap. Bila hal ini menjadi nafas para penegak hukum di negeri kita kiranya para koruptor bermental tikus akan berkurang secara drastis. Semoga.

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya