Minggu, 07 Agustus 2011

Mencari Pemimpin Tahan Lapar


Nafsu liar untuk mengejar kesenangan duniawi seakan tertahan dengan datangnya bulan suci Ramadhan.
Ramadhan datang bak oase di tengah panasnya padang pasir kehidupan yang panas . Namun kehidupan sangat menggairahkan bagi mereka yang memiliki nafsu yang tak merasa pernah terpuaskan.

Bagi mereka yang memiliki banyak "uang penasaran" dari hasil menjarah uang rakyat, sudah lama bersiap-siap dan selalu siap untuk ikutan lagi pilkada maupun pemilu. Meski kontes yang katanya perwujudan kedaulatan rakyat itu masih lama akan berlangsung. Dan hasilnya juga bisa diprediksi namun sang nafsu tak hendak urung tampil. Masa bodoh dengan kulit wajah yang keriput termakan usia. Asalkan masih pandai berkoar-koar menebar janji manis penuh pesona, berpantang surut ke belakang. Maju terus !!

Aku adalah bagian dari rakyat jelata yang hanya mampu memandang penuh tanda tanya. Akan dibawa kemana nasib ratusan juta rakyat republik tercinta ini, oleh para petualang politik yang tak tau malu naik turun pentas pilkadfa atau pemilu. Kemaren kalah sapa tau esok lusa menang dan jadi pemimpin dengan segala fasilitasnya. Nafsu penasaran laksana kalah judi ingin coba dan coba lagi. Busyeet !

Nafsu bermula di perut manusia. Perut laksana tungku api di dapur. Ia memang di perlukan untuk sekedar dinamisasi kehidupan. Tapi bila nyala apinya terlalu besar akan berbahaya. Bahaya bagi si empunya perut juga bagi sesama insan.

Jika saja di jaman gelora kontes pilkada atau pemilu ada pemimpin yang sanggup menahan lapar. Mungkin nasib rakyatnya akan terjamin secara nyata. Bukan sekedar orasi pepesan kosong berjudul peduli rakyat sementara hari-harinya berpesta kekenyangan dengan sohib koleganya dari resto ke cafe penuh aroma kuliner uang tilepan.

Dari serambi surau di pojok gang di bawah gedung pencakar langit ibukota, kami melepas penat saat dahaga dan lapar yang merupakan menu keseharian para jelata, namun di bulan Ramadhan ini dirasakan pula oleh semua kalangan. Sambil menunggu saat terbenamnya sang surya di ufuk barat, ada asa yang tersisa, bilakah datangnya pemimpin yang perutnya sering menahan lapar dan dahaga demi cintanya pada sebuah pekerjaanya sebagai "Khadimul Ummah" atau pelayan rakyat.

Sebab bila pemimpin memiliki perut yang sering merasakan lapar dan kerongkongannya sering dahaga pula , maka ia akan peduli dengan derita rakyatnya. Makin aku merindukan kedatangannya makin bergelora rasa rinduku kepada sosok Rasul Muhammad saw. Ya Allah sholawat salam untuknya berserta keluarga dan sahabatnya. Amiin

0 komentar:

Posting Komentar

Artikel terkait lainnya